"Tidak benar ada perpecahan dan ada dua kubu itu. Yang ada hanya beda pendapat. Seperti pada pilpres 2004, itu dinamika yang wajar. Kita kan kumpulan manusia," kata Mushalli kepada detikcom, Senin (2/3/2009).
Menurut caleg DPR RI untuk dapil Depok dan Bekasi ini, semua keputusan akhir dari perbedaan pendapat ini akan diselesaikan di meja Majelis Syuro PKS. Karena itu, wacana yang dikembangkan di antara Tifatul dan Anis Matta tidak akan berpengaruh apa-apa jika majelis syuro berbicara lain.
"Dari dulu sampai sekarang, PKS itu selalu menjaga soliditas. Guru-guru kami mengajarkan, soliditas harus benar-benar dijaga. Soal beda pendapat biasa saja, karena semua keputusan PKS itu nanti akan diambil oleh Majelis Syuro," papar Mushalli.
Pertemuan JK dengan elit PKS yang tidak dihadiri Anis Matta Cs beberapa waktu lalu, lanjut Mushalli, bukanlah persoalan mendasar. Absennya Anis Matta dikarenakan Anis sedang berada di dapilnya, Makassar, untuk mengisi acara PKS.
"Kalau beliau (Anis) tidak datang, itu karena ada acara di dapilnya. Bukan berarti ada perpecahan. Sementara pertemuan kemarin itu kan bukan untuk mengambil keputusan, tetapi hanya silaturahmi biasa dan penjajakan. Jadi tidak masalah," paparnya.
Menurut Mushalli, PKS tidak hanya melakukan penjajakan dengan JK saja untuk mencari sosok dan figur capres yang akan didukung. SBY dan Mega pun juga akan diundang untuk penjajakan selanjutnya.
"Jadi soal capres itu masih nanti. Kalau sekarang ada perbedaan, itu ya biasa saja. Toh keputusan akhirnya ada di Majelis Syuro. Sebelum diputus Majelis Syuro, ada wacana. Namanya politik, ada penjajakan," pungkas Mushalli.
Sebelumnya diberitakan, menurut sumber, PKS mengalami perpecahan antara kubu Tifatul Sembiring dan kubu Anis Matta. Benih perpecahan ini dipicu oleh rebutan pengaruh masing-masing kubu yang mempunyai kepentingan langsung terhadap capres dan cawapres yang akan diusung PKS pada Pilpres 2009 nanti.
(yid/nrl)











































