"Sekarang ada gonjang-ganjing pisahnya SBY-JK. Bagi pak SBY jika gonjang-ganjing itu terjadi, jelas ini permasalahan juga buat pak SBY," kata Yusril kepada wartawan di Gedung DPR, Jakarta, Jumat (27/2/2009).
Faktor dukungan Partai Golkar dikatakan Yusril memang sangat dibutuhkan oleh
SBY. Jika SBY mau mengantongi tiket untuk maju dalam pilpres mendatang, dukungan Golkar sesuatu yang tak bisa dielakkan oleh SBY.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
pencalonan pilpres. Sebab untuk mengusung capres, disyaratkan harus memiliki
suara 25 persen di pemilu atau 20 persen kursi parlemen. Dan syarat itu kemungkinan besar sulit dipenuhi oleh Demokrat.
Merunut hasil perolehan suara pada pemilu 2004, partai Demokrat hanya mampu meraup 7,4 persen suara. Demokrat kala itu harus mengajak beberapa partai untuk berkoalisi agar bisa mengusung SBY sebagai capres. Waktu itu SBY diusulkan sebagai capres oleh koalisi Demokrat, PBB, dan PKPI.
"Tiket untuk maju ke pencalonan yang 25 persen suara nasional atau 20 persen di parlemen itu, dari sisi itu pak SBY menghadapai masalah juga andaikata tidak didukung Golkar. Karena jika SBY dan JK pisah, melihat 2004 Pak SBY harus berjuang keras karena cuma dapat 7,4 persen," urai Yusril.
Dan kemenangan SBY-JK di pilpres putaran II ketika berhadapan dengan Megawati-Hasyim tidak bisa dilepaskan dari kontribusi dukungan Golkar. Gagalnya pasangan yang diusung Golkar di pilpres, yakni Wiranto-Sholahudin Wahid membuat suara Golkar pada pilpres putaran II mengalir ke JK yang digandeng SBY sebagai cawapres.
Jika memang kongsi SBY-Jk pecah, dan Golkar mengusung capres sendiri, otomatis Golkar tidak lagi mendukung SBY. Peluang SBY menang di pilpres jelas sulit.
"Ini tidak akan mudah bagi SBY," tandas Yusril. (Rez/lrn)











































