"Saling berkomunikasi dan mendekati adalah hal yang wajar. PD juga berkomunikasi dan mendekatiΒ Golkar, PKS, PKB, PPP, PAN, PBB, PKPI, dan lain-lainnya," kata Anas kepada detikcom, Jumat (27/2/2009).
Menurut Anas, koalisi antar parpol untuk mengusung capres tertentu adalah sebuah langkah awal. Ibarat seseorang mencari jodoh, bisa saja setelah lamaran dan pacaran lama, pasangan itu berpisah karena tidak berjodoh.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mantan anggota KPU ini menambahkan , yang terpenting saat ini bagi PD membangun komunikasi sebanyak-banyaknya dengan partai manapun, termasuk dengan PKS. Apalagi PD dan SBY juga rencananya akan diundang PKS setelah JK.
"Jadi, sekarang ini tidak ada yang meninggalkan dan ditinggalkan. Semua adalah
perkenalan biasa saja. PD kabarnya juga akan diundang untuk kesempatan berikutnya. Jadi, tidak ada yang aneh dengan kehadiran JK di markas PKS," papar Anas.
Mantan ketua umum PB HMI ini membantah jika pertemuan JK dan petinggi PKS itu dalam rangka melawan SBY. Sebaliknya, PD justru senang karena pertemanan yang selama ini terjalin dapat dipertahankan oleh Golkar dan PKS.
"Saya yakin bukan dalam rangka meninggalkan atau melawan SBY. Keduanya adalah partai sahabat, sesama partai di dalam pemerintahan. Kami senang kalau sahabat bertemu sahabat. Kami berduka kalau sahabat berseteru dengan sahabat," pungkas Anas. (yid/asy)











































