Film dokumenter yang berdurasi 42 menit itu merekam wawancara Fadel seputar kesuksesannya memimpin Gorontalo sebagai propinsi baru yang terpandang. Lewat film itu juga, ditampilkan beragam pujian kepada Fadel yang dilontarkan oleh beberapa tokoh nasional seperti Pramono Anung dan Sofyan Wanandi.
Usai menonton film dokumenter yang terkesan narsistik, penonton langsung disuguhi jagung masak. Fadel sendiri yang memimpin ritual makan jagung sebelum memulai diskusinya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara menurut salah satu peserta yang hadir di acara itu, Rosihan Arifuddin menganggap nonton bareng dan diskusi yang digelar Fadel tidak lebih sebagai pengkultusan yang berlebihan dan berkesan politis.
"Cara Fadel menjual Jagung sebagai kendaraan politik sangat instan dan berorientasi jangka pendek." pungkas Rosihan yang ditemui detikcom di acara tersebut.
Fadel sendiri menampik dirinya sekadar menebar pesona dan tidak mau disebut narsistik. Fadel menganggap lewat pemutaran film ini dirinya ingin berbagi pengalaman kepada daerah lain tentang keberhasilannya memimpin propinsi baru.
"Memang ini film dokumenter politik buat saya dan pembuat film ini berhasil mengemasnya dengan bagus." pungkasnya. (mna/ddt)











































