"Jalan-jalan ke Kota Padang, mampir ke Solo beli beras. Kalau mampir ke Mampang, maka isyarat sudah jelas," ujar Tifatul mengawali sambutannya yang disambut tawa para hadirin, termasuk JK, di Kantor DPP PKS, Jalan Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, Kamis (26/2/2009).
Setelah giliran Tifatul, JK pun memberi sambutan. Tak lupa JK membalas pantun Tifatul.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara mantan Presiden PKS Hidayat Nurwahid yang diwacanakan akan dipasangkan dengan JK pun tak mau kalah. Hidayat menegaskan identitas ke-Jawa-annya dengan menyitir puisi sastrawan Jawa saat zaman keemasan Kerajaan Surakarta, Ronggowarsito dalam Serat Kalatida.
"Amenangi zaman edan, ewuh oyo ing pambudi. Melu edan ora tahan, yen tan melu anglakoni. Boya kadum melik, kaliren wekasanipun. Ndilalah karsa Allah, begjo-begjane lali, luwirah begjo kang eling lawan waspodo," ujar Hidayat.
Lantas Hidayat pun menterjemahkan puisi itu yang berarti zaman ini zaman edan. Orang yang tidak ikut edan akan tergilas. Seberuntung-beruntungnya orang adalah orang yang bijak dan selalu waspada.
"Kutipan sastra Jawa ini menandakan saya Jawa tulen. Dua bulan ini, saya selalu melakukan wayangan. Lakonnya Ronggowarsito. Saya wayangan mengundang Ki Manteb Sudarsono," ujar Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) ini yang seakan menjawab wacana Jawa-Nonjawa sebagai pasangan capres-cawapres.
JK tiba di DPP PKS pukul 19.40 WIB. JK didampingi Ketua Badan Pemenangan Pemilu (Bappilu) Golkar Burhanuddin Napitupulu, Ketua DPP Priyo Budi Santoso, tampak pula pengusaha Aksa Mahmud dan Menteri Perindustrian Fahmi Idris. Sementara dari PKS tampak semua fungsionaris DPP PKS hadir.
(nwk/nwk)











































