Berpalingnya sejumlah parpol itu makin menguat seiring semakin dekatnya waktu Pemilu 2009. Wajar bila pada 8 bulan sisa pengabdian pemerintahan SBY-JK, kabinet mulai terlihat goncang. Ancaman reshuffle kabinet ada di depan mata. Alasannya, para menteri yang diusung parpol mulai kembali aktif di parpol dan sulit berkomunikasi dengan Presiden SBY.
Ini adalah sebuah konsekuensi dari kabinet yang berisikan menteri-menteri yang diusung parpol. Seperti diketahui, ada 8 parpol yang menyumbang menteri untuk mendukung pemerintahan SBY-JK 2004-2009. Yaitu Partai Demokrat (PD), PPP, PBB, PAN, PKB, PKS, PPP, dan PKPI.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
PKS mendapat jatah 3 menteri, yakni Mennegpora Adhyaksa Dault, Menpera M Yusuf Ashari, dan Mentan Anton Apriyantono. Sementara PPP mendapat jatah 2 menteri, yaitu Mensos Bachtiar Chamsyah dan Menkop dan UKM Suryadharma Ali.
Lain halnya dengan PKB yang mendapat jatah 2 menteri, yaitu Menakertrans Erman Soeparno dan Menteri Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal Lukman Edy. PBB dan PKPI masing-masing mendapat jatah 1 menteri, yaitu Menhut MS Kaban dan Menneg Pemberdayaan Perempuan Meuthia Hatta
Terakhir, PAN yang hanya mendapat jatah 2 menteri, yaitu Mensesneg Hatta Rajasa dan Mendiknas Bambang Sudibyo.
Dulu, delapan parpol ini berjalan bersama dan beriringan mendukung kesuksesan
pemerintahan SBY-JK. Namun, untuk Pilpres 2009, mereka memiliki sikap politik yang
berbeda. Sejumlah parpol tidak mendukung keberlanjutan SBY yang ingin maju sebagai capres 2009.
Hal itu terlihat dari keputusan politik dari para tokohnya yang secara tegas mengatakan, PD akan mengusung kembali pencalonan SBY sebagai capres 2009. Sementara Partai Golkar memilih jalur berlawanan dengan SBY dengan mengusung capres sendiri pada Pilpres 2009.
Partai berlambang pohon beringin ini menganulir wacana yang berkembang sebelumnya yang akan mempertahankan duet SBY-JK dalam Pilpres 2009. Bahkan, untuk mensolidkan Partai Golkar, dalam Pilpres 2009, JK disebut-sebut sebagai salah satu capres terkuat Golkar meski internal partai ini masih belum memutuskannya.
PKS yang selama ini memposisikan diri sebagai bandul politik, belum bersikap jelas. Partai memilih untuk menunggu hasil pemilu legislatif dalam memutuskan ijtihadpolitiknya dalam Pilpres 2009.
Meski demikian, PKS terlihat bermain-main di banyak capres. Mainan terbaru PKS adalah memasangkan Hidayat Nurwahid sebagai pendamping JK dari Golkar. Jika skenario ini benar terjadi, PKS akan menjadi musuh PD dan SBY.
Sementara posisi PPP masih kebingungan akibat adanya perbedaan sikap politik dari dua elitnya yang saat ini menduduki pos penting di DPP PPP yaitu Bachtiar Chamzah dan Suryadharma Ali: Ketua Umum PPP Suryadharma Ali cenderung merapat ke kubu
Megawati, sementara kubu Bachtiar Chamsyah tegas mendukung SBY. Β
PKB setelah jatuhnya kekuasaan Gus Dur lebih beruntung dengan situasi saat ini. Karena tidak terbebani dengan harus mencapreskan Gus Dur, sementara di sisi lain, suara PKB yang besar pada pemilu 2004 menjadi incaran parpol besar untuk diajak koalisi.
Karena kondisi itulah PKB lebih bersikap hati-hati dan terkesan mencari aman. PKB belum tegas akan mendukung siapa dalam pemilihan presiden 2009.
Β
Sementara PBB secara tegas mengajukan Yusril Ihza Mahendra sebagai calon presiden 2009. Namun sepertinya keputusan partai ini belum bulat. Faksi MS Kaban masih ingin mendukung SBY dengan konsesi kursi menteri.
Demikian halnya dengan PKPI. Partai pengusung SBY pada Pilpres 2004 lalu ini belum bersikap tegas mengenai pilpres 2009. Awalnya partai ini ingin mendorong ketua umumnya sebagai capres atau cawapres. Sayangnya sosok sang ketua umum, Moetia Hatta belum juga layak jual untuk posisi itu.
Bagaimana dengan PAN, Ketua Umum PAN Soetrisno Bachir sejak awal mengampanyekan dirinya layak sebagai capres. Namun, PAN masih memiliki kader terbaik dan senior yang masih ingin menjajal kembali keberuntungannya dalam pilpres 2009, Amien Rais.
Akibatnya, partai berlambang matahari ini harus menunggu pemilu legislatif untuk menentukan semuanya. Belum ada dukungan PAN untuk SBY di 2009 sebagaimana juga belu ada dukunga PAN terhadap Amien Rais ataupun SB sendiri.
Dengan sikap parpol yang makin jauh dari dukungan untuk melanjutkan duet SBY-JK, kabinet SBY terkesan tidak kompak. Paling tidak, tidak sekompak seperti sebelumnya. Bahkan, menurut sumber detikcom, para menteri dari parpol sudah berjalan sendiri-sendiri.
Sementara Presiden SBY dan Wapres JK semakin intensif berkunjung ke daerah-daerah. Demikian juga para menteri yang sebagian besar memiliki jabatan penting di parpol juga semakin memperbanyak aktivitas di parpolnya. Akankah kabinet ini akan pecah dan akan dirombak? (yid/asy)











































