"Sebagai partai besar Golkar tidak perlu menari di genderang orang lain. Para pemimpin Golkar harus kepala dingin, meski hati panas," kata Ginandjar kepada detikcom, Rabu (25/2/2009).
Menurut Ketua DPD RI ini, Golkar harus merapatkan barisan untuk menyambut pemilu legislatif 9 April mendatang. Hal itu sangat penting untuk menjaga kewibawaan dan martabat partai agar tidak terpecah hanya karena persoalan berebut tiket capres Golkar.
"Saya tetap pada pendirian bahwa konsentrasi kita sekarang harus untuk memenangkan pemilu legislatif. Soal capres dan cawapres kita putuskan sesudah pemilu. Dan sangat besar kemungkinan waktu itu pun, Golkar akan tetap menjagokan ketua umumnya, Jusuf Kalla," papar Ginandjar.
Calon anggota DPD dalam Pemilu 2004 dari Jabar ini menilai penetapan capres dan cawapres sebelum pemilu hanyalah akan membuat kekuatan Golkar semakin lemah. Alasannya, kekuatan yang harusnya bisa bersatu menjadi pecah karena berebut di internal. Akibatnya konsentrasi pemenangan partai menjadi terbengkelai.
"Saya tidak setuju Golkar menetapkan calon presiden sejak sekarang. Saya tidak yakin itu akan memperkuat posisi Golkar dalam pemilu legislatif. Bahkan mungkin bisa
memperlemah," papar Ginandjar.
"Apalagi, dari laporan yang saya terima dan saya baca di media, keputusan itu (pengajuan capres) diambil dalam suasana emosional, antara lain sebagai reaksi atas ucapan Mubarok dari Partai Demokrat," pungkas guru besar yangย mengajar di Graduate School of Asia and Pacific Studies, Waseda University, Jepang, ini.
(yid/nrl)











































