"Ke depan, saya perkirakan kampanye politik lewat iklan akan lebih kuat pengaruhnya dibanding melalui tokoh lokal seperti kiai," kata Ketua DPP Partai Demokrat Anas Urbaningrum dalam diskusi 'Abu-abu Iklan Politik' di Bravo Media Center di Jl Teuku Umar, Menteng, Jakarta Pusat, Senin (23/2/2009).
Menurutnya, kampanye tampak semakin dipengaruhi modal dan perkembangan teknologi. "Ini tidak ditemukan pada awal-awal reformasi pada 1999 dan 2004. Kalau dikatakan pengaruh kampanye media semakin penting itu fakta, kecepatan media menjangkau pemilih itu yang memiliki kekuatan ke depan," jelasnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Aturan kampnye selalu ketinggalan, walau UU isinya sekitar 20 persen lebih baik dari kampanye 2004 lalu. Kreasi-kreasi baru itu selalu tidak terpikirkan saat pembahasan UU Pemilu," imbuh eks Ketum PB HMI ini.
Karena itu, aturan kampanye mengenai iklan akan selalu menjadi wilayah abu-abu dalam pemilu. "Untuk etika dalam berkampanye harus iklan yang positif menyangkut hal positif bagi caleg atau partai, tidak perlu kekurangan caleg atau partai lain. Itu lebih relevan dengan kultur kita," tutup eks anggota KPU ini. (ndr/nrl)











































