Seperti diketahui, duet SBY-JK hampir dipastikan bubar setelah JK mendeklarasikan dirinya siap menjadi capres Partai Golkar. Menurut Kalla, dirinya tak kuasa menolak jika ternyata kader partai berlambang pohon beringin itu memintanya maju sebagai capres.
Memang keputusan tersebut belum final. Sebagaimana hasil Rapimnas, Partai Golkar akan melakukan penjaringan capres terlebih dahulu. Setiap DPD Tingkat I dan II Partai Golkar diminta memberikan satu nama bakal capres. Selanjutnya 7 nama yang memiliki rating tertinggi akan disurvei oleh lembaga independen untuk kemudian ditetapkan sebagai capres.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Secara eksplisit, PD memang berulangkali menegaskan, soal cawapres baru akan dibicarakan setelah pemilu legislatif. Namun pada kenyataannya, sejumlah nama telah digodok sebagai bakal cawapres SBY. Salah satunya adalah politikus senior yang juga pendahulu Kalla selaku mantan Ketua Umum Partai Golkar, yakni Akbar Tandjung.
Akbar Tandjung yang diwawancarai detikcom tidak membenarkan namun tidak juga membantah rumor tersebut. Namun pria asal Sumatera Utara itu mengatakan, hingga saat ini belum ada pembicaraan serius mengenai hal itu.
"Tapi dalam dunia politik ini, semua hal bisa terjadi. Seperti Pak JK dulu yang mundur dari konvensi kemudian menjadi cawapres Pak SBY," kata Akbar diplomatis saat berbincang-bincang dengan detikcom, Senin (22/2/2009).
Diakui Akbar, aktivitasnya sebagai Dewan Pembina Barisan Indonesia (Barindo) membuatnya kenal baik dengan orang-orang dekat SBY. Tetapi hal itu bukan berarti telah ada pendekatan khusus dengan SBY terkait cawapres.
"Di organisasi itu kan ada beberapa orang yang dulu menjadi tim sukses Pak SBY di 2004," jelas Akbar.
Yang pasti, sambung Akbar, dirinya saat ini sedang fokus terhadap proses penjaringan capres yang dilakukan Partai Golkar. Dia yakin bisa masuk dalam 7 besar nama bakal capres yang diusung DPD I dan DPD II Partai Golkar.
"Kalau prosesnya dilakukan secara demokratis dan terbuka saya optimistis masuk 7 besar. Semua orang (Golkar) tahu pengalaman saya memimpin dan membesarkan Golkar dalam dua pemilu. Ini fakta yang tidak bisa terlupakan," tandas Akbar.
(djo/nrl)











































