"Ini semacam dilepas. Ada sayonara politik. Kira-kira semacam itulah," ujar Direktur Indo Barometer M Qodari kepada detikcom, Minggu (22/2/2009).
Sinyal ini sudah ditangkap Qodari sejak pelaksanaan Rapimnas Partai Demokrat (PD) beberapa waktu lalu yang tidak menyinggung-nyinggung soal JK. Terlebih, komentar Wakil Ketua Umum PD Ahmad Mubarok yang dianggap melecehkan Golkar tambah memperuncing suasana.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun demikian, Qodari belum bisa memastikan apakah SBY-JK benar-benar akan pecah kongsi. Bisa saja mereka saat ini terkesan renggang padahal di belakang saling bertelepon.
"Kita persisnya tidak tahu. Atau sebenarnya mereka masih telepon-teleponanan. Apa yang ada di dunia ini banyak yang bermain-main. Negara kan seperti teater," tutur pria berkacamata ini.
Jika SBY benar-benar bercerai dengan JK, menurut Qodari, tidak perlu SBY segera mencari siapa pendampingnya di Pilpres 2009. Namun demikian, imbuhnya, SBY sudah pasti melirik-lirik siapa yang cocok mendampinginya.
"Dugaan saya sementara akan tergantung pada pemilu legislatif. Kalau Demokrat meraih di atas 20 persen kursi di DPR, dugaan saya SBY akan menggandeng tekokrat. Sri Mulyani yang paling tepat. Tapi kalau kurang 20 persen SBY terpaksa mau tidak mau akan mengambil orang partai," pungkasnya. (anw/anw)











































