Dalam iklan yang dibintangi oleh Jeng Kelin dan Omes komedian ektsravagansa berpesan agar masyarakat berhati-hati memilih caleg. Masyarakat dihimbau untuk mengenal caleg sebelum menentukan pilihannya pada pemilu pada 9 April 2009.
Namun pesan yang disampaikan dalam iklan ini dinilai menyesatkan karena pesan yang diterima masyarakat Bali berbeda dengan pesan yang dicerna masyarakat Indonesia di daerah lain.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun pesan tersebut kemungkinan berbeda ditangkap oleh masyarakat Bali. Jika pesan tersebut diartikan dalam bahasa Bali kalimat tersebut artinya "pilih yang tidak jujur, tidak prorakyat". Sebab kata "sing" dalam bahasa Bali artinya "tidak" sedangkan dalam bahasa jawa berarti "yang".
Seorang masyarakat Bali, Putu Suratama menilai pesan iklan tersebut menyesatkan masyarakat Bali. "Seakan-akan kita diajak untuk memilih caleg yang tidak jujur dan tidak berpihak pada rakyat," ujar Suratama kepada detikcom, Jumat (20/2/2009).
Anggota KPU I Gusti Putu Arta mengaku akan mengkoreksi iklan pemilu berjudul "Lapak Rumpi" ini jika memang terjadi kesalahan makna. "Saya belum tahu kemasannya. Saya coba cek dulu, perhatikan maknanya supaya tidak ada kesalahan makna. Iklan ini dimaksudkan agar pesan yang disampaikan sama di semua daerah. Jika ada kekeliruan akan kita koreksi dan revisi," janji Arta saat dihubungi detikcom.
Iklan "Rumpi Lapak" diluncurkan bersama dengan iklan berjudul "Contreng, Cincay, lah" pada tanggal 7 Februari 2009. Iklan ini ditayangkan di media elektronik hingga 8 April 2009. Kedua iklan ini dibuat hasil kerjasama KPU dan UNDP dengan biaya Rp 3 miliar.
(gds/djo)











































