Sumber detikcom menjelaskan, setidaknya ada dua kelompok yang disebut-sebut melawan keinginan berlanjutnya duet SBY-JK. Kelompok pertama adalah kelompok yang merasa Golkar itu partai besar dan pemenang pemilu 2004. Karenanya sangat tak layak jika hanya menempatkan kader terbaik Golkar sebagai orang nomor dua. Kelompok ini cenderung menginginkan JK berani maju sebagai capres.
Kelompok pertama ini didukung ini oleh politisi Golkar yang menduduki jabatan
teras di DPD. Terutama pengurus-pengurus di DPD II. JK memang diyakini memiliki dukungan kuat di DPD II. Buktinya, pada Munas Golkar di Bali pada 2005, jasa DPD II lah yang menghantar JK ke kursi ketua umum. Sementara dukungan JK di level DPP berasal dari kelompok politisi yang berasar dari geng Makassar dan Indonesia bagian timur lainya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kelompok ini bersatu untuk melawan faksi yang menginginkan SB-JK lestari. Yang penting perjuangan memenangkan kebersamaan dulu. Siapapun orangnya asal presidennya dari internal partai. Kalau ini sudah dimenangkan, ini menjadi tiket untuk masuk di babak kedua," papar politisi senior Partai Golkar, Zainal Bintang pada detikcom Jumat (20/2/2009).
Menurut Zaenal, setelah rencana duet SBY-JK bubar dan tak mampu dipertahankan lagi, babakan baru perseteruan dalam tubuh partai beringin pun dimulai. Dua kelompok yang mendukung JK dan sultan pun diyakini akan saling berhadap-hadapan. "Di babak kedua sekarang ini, pendukung JK dan Sultan akan head to head," terangnya.
'Perang' antar kedua tokoh Golkar ini diprediksi akan berjalan seru. Munculnya sosok Sultan pada Rapat Konsultasi yang digelar pada Rabu kemarin disebut-sebut sebagai sikap percaya diri Sultan untuk berlaga dengan JK. Namun dalam hitung-hitungan di atas kertas, JK dinilai masih unggul, khususnya dalam hal kemampuannya mengakses ke DPD I dan DPD II.
"Dalam hal akses, JK akan lebih mudah. Dia akan gampang melakukan konsolidasi dan mempengaruhi pengurus teras di daerah karena dia adalah ketua umum," terang Zainal.
Hal yang sama juga disampaikan Gandung Pardiman. "Akses ketua umum lebih mudah, dan daerah masih memegang etika politik bahwa ketua umum lah yang menjadi capres. Saya orang jawa, tapi saya mendukung, saatnya bukan orang jawa yang jadi capres dari Partai Golkar," ujar Ketua DPD I DIY, Gandung Pardiman ketika ditemui detikcom pada Rapat Konsultasi beberapa hari lalu.
Untuk memenangkan tiket capres dari Golkar inilah, langkah Sultan diyakini tidak mudah. Yang pasti, pasca bubarnya duet SBY-JK, genderang 'perang' di tubuh partai berlambang pohon beringin ini telah ditabuh bertalu-talu. Babakan Sultan VS Kalla telah dimulai. Siapa pemenangnya? (gun/yid)











































