"Ini tanda-tanda perceraian pada tahap awal. Memang kegelisahan dan keresahan, sudah lama dirasakan pengurus daerah," kata pengamat politik M Qodari saat berbincang melalui sambungan telepon, Kamis (19/2/2009).
Hubungan mulai renggang, lanjut Qodari, setelah rapimnas Partai Demokrat tidak muncul sama sekali pernyataan mengenai cawapres SBY. Apalagi ditambah dengan pernyataan Wakil Ketua Umum Ahmad Mubarok.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bagaimana bila pasangan ini benar-benar berpisah? Apakah SBY akan mulus kembali tanpa pasangannya JK?
"Peluang SBY akan berkurang, karena JK populer. Sedikit banyak, mesin politik Golkar punya kontribusi. Tapi memang pemilihan langsung titik berat pada figur," jelasnya.
Dan bagaimana peluang JK bila maju? "Itu tidak bisa dikatakan sekarang, tergantung kampnye," jawabnya.
Tapi bagaimanapun menurutnya sebagai partai besar Golkar memang sudah sepantasnya memunculkan nama seorang capres. "Partai besar harus mempunyai sikap politik, harus percaya diri. Memang Golkar harus segera mengambil sikap jelas dan tegas, tetap bersama SBY atau mengambil jalan lain berhitung," tutupnya. (ndr/gah)











































