Kisah tersebut bermula pada akhir masa bakti Presiden Soeharto. Ketika itu SBY yang sedang mengejar cita-cita menjadi KSAD, mendapat pemberitahuan dirinya akan ditarik dari militer untuk kemudian menduduki jabatan dalam kabinet baru yang akan dibentuk.
"Saya memohon kepada Panglima TNI untuk diberi kesempatan melanjutkan pengabdian di lingkungan TNI. Pak Wiranto berhasil meyakinkan Pak Harto, dan saya tetap bertugas di TNI," ungkap SBY dalam wawancara khusus di harian Jurnal Nasional, Rabu (18/2/2009).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Di depan saya dan Letjen Agus Widjojo, Panglima TNI melalui telepon berhasil mempertahankan saya di TNI sesuai permohonan saya," ujar SBY.
Sedih Jadi Menteri
Rupanya posisi KSAD memang bukan jodoh SBY, kala duet Gus Dur-Mega tengah menyusun squad kabinetnya lagi-lagi SBY diminta bergabung. Merasa harus istiqomah dengan karir militernya, SBY sempat berpikir menolaknya. Tapi pencerahan singkat dari almarhum Sang Ayah mengubah pendiriannya 270 derajat.
"Beliau bertanya 'Sus, apa yang kamu cari? Pengabdian itu di mana pun kan sama saja'. Kalimat Ayah seperti cahaya yang menerangi hati dan pikiran saya yang waktu itu kusut," paparnya.
Di dalam kabinet pimpinan Presiden Gus Dur yang hanya berumur 1,5 tahun, SBY menjabat sebagai menteri pertambangan dan energi. Sejak itu pula SBY resmi terjun ke kancah politik serta berhenti bercita-cita menjadi KSAD yang merupakan pemegang pucuk pimpinan tertinggi TNI AD.
"Saya sekeluarga sedih sekali," kenang SBY.
(lh/nrl)











































