"Tahun ini Bu Mega tentu akan menjadi rival atau kompetitor saya yang relatif tangguh," ujar Presiden SBY seperti tercantum dalam wawancara khususnya di harian Jurnal Nasional, Rabu (18/2/2009).
Dia memperkirakan kompetisi memperebutkan kursi RI1 dalam Pilpres 2009 bisa berlangsung lebih seru bila dibandingkan Pilpres 2004. Mengingat tim PDIP selaku parpol pengusung Megawati sudah tentu belajar banyak dari pengalaman buruk kekalahan sebelumnya dan menyusun persiapan lebih matang.
"Hampir pasti kompetisi akan sangat keras," ujar SBY.
Apa pun hasilnya kelak, SBY sangat mengharapkan pola hubungan antar elit politisi pasca Pilpres 2009 menjadi lebih dewasa daripada yang ada sekarang ini. Walau salah satu pasti akan menjadi oposisi, tapi bukan dalam konteks yang permanen hingga kedua pihak terus-menerus dalam posisi saling serang.
"Jangan setelah pemilihan selesai, sebutlah... permusuhan masih berlanjut. Tidak perlu ada dendam dan amarah yang disimpan. Apalagi jika para tokoh politik mengajak konstituennya memelihara permusuhan itu," jelasnya.
Setelah KPU mengumumkan dan menetapkan hasil Pilpres 2004, hubungan SBY-Mega yang sudah sempat tegang menjadi makin renggang. Megawati seperti sengaja menghindari bertemu muka langsung dengan SBY, tidak hanya dalam acara resmi kenegaraan bahkan juga acara kaluarga besar Soekarno sekali pun.
"Saya tidak pernah mengangap beliau (Megawati) adalah musuh abadi. Tidak sepatutnya kami berdua bermusuhan sepanjang masa. Malu kita pada rakyat," jawab SBY mengenai hubungannya dengan Megawati.
(lh/ken)











































