Tapi iklan "Satu Bendera" yang dibesut PKS tersebut kemudian mengundang kontroversi. Beberapa partai yang tokohnya jadi bahan kliping iklan menganggap iklan PKS tersebut tidak etis bahkan bisa dibilang black campaign.
"Katanya PKS partai dakwah, kok menggunjing kejelekan partai lain sih," sindir Wakil Ketua Umum Partai Demokrat Ahmad Mubarok.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun sekalipun iklan PKS banyak mendapat kecaman, Bawaslu belum menganggapnya sebagai pelanggaran kampanye. Alasannya, identitas iklan terbaru PKS jelas dan materi iklannya berdasarkan fakta.
"Identitas dan yang mengeluarkannya jelas, itu tidak termasuk black campaign. Mungkin saja bisa termasuk dalam negative campaign tapi tidak melanggar undang-undang," kata Nur anggota Bawaslu Nur Hidayat Sarbini.
Ia menambahkan Bawaslu telah melakukan kajian terhadap iklan tersebut dan menyimpulkan iklan itu tidak berisi penyebaran fitnah atau ingin menjatuhkan partai lain tanpa dasar yang jelas.
Pendapat serupa juga dikatakan pengamat komunikasi Universitas Indonesia, Effendi Ghozali. Kata dia, dalam negara demokrasi, seperti di luar negeri, iklan seperti itu sangat wajar dilakukan.
Effendi kemudian menyarankan agar parpol lain lebih kreatif didalam menuangkan ide-idenya untuk menyampaikan misi dan visi partai. PKS dianggap Effendi sebagai partai yang cerdik dengan memainkan isu-isu panas dalam materi iklannya.
"Strategi seperti itu biasa digunakan di luar negeri untuk menjatuhkan lawan politiknya.Jadi kalau memang ada parpol yang ingin membalas silahkan menggunakan iklan yang lebih kreatif lagi," jelas Ghozali.
Bagi tim pembuat iklan dan komunikasi PKS, isu-isu yang sedang hangat memang menjadi inspirasi dalam setiap pembuatan iklan kampanye PKS. Alasannya, supaya iklan tersebut lebih aktual dan bisa menyedot perhatian publik.
"Kita memang memanfaatkan momentum yang ada. Dan itu bersifat aktual. Misalnya, iklan pertikaian tokoh parpol dan gelar pahlawan kepada mantan presiden Soeharto," beber Irfan Wahid, kepala tim pembuat iklan dan komunikasi PKS.
Pria yang biasa disapa Ipang ini mengungkapkan, dalam iklan Satu Bendera, awalnya ia hanya ingin mengangkat pertikaian PDIP dengan Partai Demokrat. Namun karena tiba-tiba suhunya merendah, iklan tersebut tidak jadi dikeluarkan. Begitu konflik Golkar juga mencuat baru konflik Mega-SBY disandingkan.
Adik Solahudin Wahid ini mengaku tidak bermaksud menjelek-jelekan partai lain dengan iklan yang dibuatnya. "Hanya untuk pembelajaran kepada publik bahwa saat ini bangsa Indonesia tengah dilanda krisis. Jadi para elit jangan hanya sibuk berkonflik yang tidak ada gunanya," jelas Ipang.
Yang jelas, iklan berhasil menyedot perhatian publik. Karena banyak tokoh politik yang merasa kesal dengan iklan PKS tersebut.
(ron/ddg)











































