JK Punya Peluang, Tapi Belum Berani

Adu Strategi JK vs Sultan

JK Punya Peluang, Tapi Belum Berani

- detikNews
Senin, 16 Feb 2009 18:05 WIB
JK Punya Peluang, Tapi Belum Berani
Jakarta - Penjaringan capres Golkar mulai dibuka. Sejumlah nama akan dijaring untuk di survei. Diantara nama-nama kandidat yang bakal menjadi calon kuat capres dari Golkar adalah Sri Sultan Hamengkubuwono X dan Jusuf Kalla (JK). Dari sejumlah DPD dikabarkan, dukungan terhadap Sultan semakin menguat. Meski demikian Sultan mengaku masih mengamati perkembangan di internal Golkar.

"Kita tunggu saja hasil Rapimnas Partai Golkar. Sekarang saya belum tahu, bagaimana mekanisme penjaringan capresnya," kata Sultan seusai membuka acara Pameran Te-collabo, di Yogyakarta, Senin 16 Februari.

Sinuhun juga mengaku tidak berharap banyak dengan penjaringan capres versi Golkar saat ini. Sebab ia merasa sudah mendapat dukungan dari sejumlah partai, selain Golkar. Dengan kata lain, Sultan enggan disebut menaruh harapan banyak kepada partai tempatnya bernaung. "Kita tunggu saja hasil pemilu 9 April dan Rapimnas Golkar," elak Sultan

Sikap Sultan tersebut jauh berbeda dengan pernyataan sejumlah pendukung Sultan di internal Golkar. Beberapa kader Golkar sebelumnya mengatakan, penjaringan capres oleh partai Golkar akan membuka peluang Sultan untuk maju sebagai kandidat unggulan.

Tapi, kata Ketua Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi Partai Golkar, Zainal Bintang, peta persaingan saat ini berubah ketika JK sudah merestui adanya penjaringan capres. Sebab bila JK benar-benar ingin masuk dalam bursa capres kemungkinan peluangnya lebih besar dibanding Sultan.

"Kalau JK mengatakan siap sebagai capres. Maka secara fatsoen politik dukungan DPD akan berubah. Tapi apakah JK berani menyatakan diri maju sebagai capres?. Itu yang sedang ditunggu," ungkap Bintang.

Dikatakan Zainal, desakan penjaringan capres oleh sejumlah DPD salah satunya untuk mendesak JK mengambil peluang menjadi capres. Nah, ibarat main bola biliar, imbuh Zainal, JK sebenarnya bisa memasukan tiga bola sekaligus.

Maksudnya, dengan menyatakan diri siap sebagai capres posisinya akanĀ  semakin menguat di DPD dan akan merontokan para pesaingnya di Golkar, termasukĀ  Sultan. Sebab seadainya JK bilang siap maju maka semangat kader akan bangkit dengan mendukung ketua umum sebagai capres.

Tapi apakah JK berani menyatakan dirinya untuk maju sebagai capres?" Itulah yang kita tunggu. Dan kami berharap JK berani menyatakan siap maju sebagai capres," harap Zainal.

Begitu juga yang dikatakan pengamat politik Muhammad Qodari dari Indo Barometer. Kata Qodari, jika JK berani mengatakan siap maju sebagai capres peta politik akan geger. Sebab sama saja mengumumkan pecah kongsi dengan SBY.

Itu sebabnya Qodari menilai, dukungan JK terhadap penjaringan capres hanya untuk meningkatkan daya tawarnya kepada Partai Demokrat. "Saat ini JK berharap garansi yang menguntungkan dari SBY. Jika tidak ada garansi itu, JK bisa saja maju sebagai capres," jelas Qodari

Peluang JK untuk jadi capres dari Golkar pun sangat besar. Sebab sebagai ketua umum JK punya akses ke DPD-DPD. Hal ini memudahkannya untuk melakukan konsolidasi.

Sementara Sultan, kata Qodari, hanya didukung oleh jajaran elit yang kurang punya pengaruh di partai. Jadi peluangnya sangat tipis. Meski demikian Sultan bisa menjadi pesaing yang berat sekalipun ia menjadi capres dari partai lain.

Kondisi seperti ini disebut-sebut seperti pada pemilu 2004. Saat itu Wiranto yang didukung Golkar tidak berdaya menghadapi pasangan Mega-Hasyim Muzadi dan SBY-JK. Ketika Golkar merasa tidak punya peluang sebagai pemenang, sejumlah elit kemudian menyeberang ke JK, yang merupakan kader Golkar.

Akankah kondisi serupa terulang? Kata Qodari semua bisa saja terjadi. Tapi persoalannya, suara dukungan sebagai capres tidak serendah pemilu 2004. Saat ini untuk maju sebagai capres paling tidak harus mengantongi suara dukungan parpol sebanyak 20 persen. Hal inilah yang akan sulit dilakukan Sultan.

Harapan yang paling mungkin adalah, Sultan maju sebagai capres dari Partai Golkar. Apalagi kata Wakil Ketua Umum Golkar Agung Laksono, meski menjabat Ketua Umum Partai Golkar, JK tidak otomatis menjadi capres Golkar.

Sebab model penjaringan yang dilakukan adalah melalui survei. DPP Partai Golkar akan menyerahkan 7 nama tertinggi yang diusulkan ke lembaga survei. Ketujuh nama itu kemudian akan di survei popularitasnya di masyarakat bukan di internal partai.

Nama yang menguat di survei akan dibawa ke Rapimnas untuk ditetapkan. Dengan demikian posisi JK dan Sultan sama-sama kuat. Lalu siapa yang akan jadi pemenangnya? kita tunggu saja.

(ddg/ron)


Berita Terkait