Para petinggi Golkar yang hadir dalam rapat tertutup tersebut, antara lain, Wakil Ketua Umum Agung Laksono, Sekjen Soemarsono, Ketua Pelaksana Harian I Bappilu DPP Golkar Burhanuddin Napitupulu, Ketua Fraksi Partai Golkar DPR RI, Priyo Budi Santoso, dan Ketua DPP Partai Golkar Koordinator Bidang Kesra Firman Subagyo.
Sumber detikcom di DPP Golkar mengatakan, agenda penting yang dibahas di rumah sang ketua umum salah satunya adalah soal penjaringan capres dari partai berlambang pohon beringin. Selain itu, mereka juga membahas soal menguatnya nama Sultan Hamengkubowono ke X di bursa penjaringan capres.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ketua DPP Firman Subagyo saat dikonfirmasi membantah hal tersebut. Menurutnya, rapat itu hanya membahas materi yang akan disampaikan JK di hadapan para pengusaha di Hotel Four Season, Jakarta, Senin siang.
Adapun soal penjaringan capres, lanjut Firman, hanya dilakukan sejumlah revisi terhadap surat yang akan diedarkan kepada DPD tersebut. Namun Firman tidak mau menyebut revisinya seperti apa. "Tunggu saja kalau sudah kelar," begitu kata Firman.
Tapi kata sumber detikcom, koreksi yang dilakukan salah satunya soal tanda-tangan di surat tersebut. Sebab sebelumnya surat penjaringan capres ditandatangani Agung Laksono. "JK merasa dilangkahi dengan adanya tanda tangan Agung," jelas sumber detikcom yang juga sebagai salah satu fungsionaris Golkar.
Sebelumnya, surat edaran penjaringan capres Partai Golkar masih ditunggu-tunggu sejumlah DPD. Pasalnya surat itu belum juga ditandatangani Ketua Umum Golkar Jusuf Kalla (JK). Padahal surat yang berisi petunjuk dan pelaksanaan (juklak) penjaringan capres itu harus sudah dikirim sejak Desember 2008, sesuai amanat Rapimnas IV.
Bukan hanya tanda tangan Agung yang mengganggu pikiran JK. Sebab selama ia berada di luar negeri DPD-DPD mulai mengelus-elus kandidat capres yang akan digadang. Padahal JK sejauh ini masih keukeuh untuk berdampingan dengan SBY di pilpres mendatang.
Karena JK dianggap tidak mau maju sebagai capres Golkar, sejumlah DPD kemudian mulai mengelus Sultan sebagai jagoan Golkar untuk bersaing di pilpres menghadapi capres-capres dari partai lain.
"Lebih 50 persen DPD sudah mendukung Sultan. Kalau JK tetap ngotot jadi cawapres SBY, maka jumlah dukungan kepada Sultan bakal terus menguat," kata Anton Lesiangi, fungsionaris Golkar.
Anton adalah salah satu anggota "The Dream Team" Sultan. Ia dan beberapa elit Golkar mengaku sudah menggalang dukungan di lingkaran DPP. Beberapa diantaranya, ujar Anton, sudah memberikan dukungan. Sekalipun mereka belum berani menyatakan secara terbuka.
Ada beberapa skenario yang saat ini sedang dijalankan para pendukung sultan di Golkar. Salah satunya dengan mendesak diadakannya penjaringan capres. Dengan mekanisme tersebut peluang untuk mengusung Sultan akan semakin besar. Ukurannya
popularitas Sultan di sejumlah survei.
Kubu Sultan juga dikabarkan sudah menjanjikan JK untuk menjadi penasihat khusus bila Sultan berhasil duduk sebagai presiden, pertengahan Januari lalu. Hanya saja, hingga saat ini, JK belum memberikan jawaban atas permintaan tersebut.
Saat ini juga dikabarkan muncul beberapa faksi besar di tubuh Golkar, yakni faksi JK, faksi Agung Laksono, faksi Surya Paloh dan faksi Aburizal Bakrie.
Faksi-faksi tersebut punya kepentingan yang berbeda. Faksi JK misalnya, menginginkan agar duet SBY-JK tetap berlanjut di pilpres 2009. Sedangkan faksi Surya Paloh disebut-sebut mengelus Sultan sebagai capres dari Golkar. Sedangkan faksi Aburizal Bakrie hanya berjuang memperebutkan kursi ketua umum Golkar mendatang. Sementara Agung Laksono saat ini masih melihat situasi yang berkembang saat ini.
Jika dukungan terhadap Sultan menguat, Agung dikabarkan bakal berada di belakang Sultan. Tapi jika duet SBY-JK yang menguat, ia akan masuk dalam kabinet pasangan tersebut.
Tapi menurut Zainal Bintang, harapan untuk duet SBY-JK semakin menipis. Karena DPD akan mendesak Golkar mengajukan capres dari internal partai pada rapat konsultasi mendatang. "Keinginan untuk mengusung capres dari kader Golkar tidak bisa dibendung lagi. JK mau tidak mau harus mengikuti arus yang berkembang," jelas Bintang.
Bila Golkar akhirnya memutuskan mengusung capres dari internal partai, besar kemungkinan calon yang akan menguat adalah JK dan Sultan. Keduanya diprediksi akan bertarung memperebutkan posisi capres dari Golkar.
(ddg/ron)











































