Nama-nama tersebut disodorkan ke seluruh DPD untuk dijaring. Kemudian para kandidat yang diajukan DPP akan dimasukkan ke DPP untuk dilakukan survei.
Dari Tujuh nominator, nama Sultan diprediksi bakal menempati urutan pertama kandidat capres dari Golkar. "Dari hasil survei dan aspirasi kader daerah nama Sultan semakin menguat. Sultan kemungkinan besar akan maju sebagai capres," kata Ketua DPP Golkar Zainal Bintang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Keberanian Sultan mendeklarasikan diri memang menjadi pertimbangan khusus sejumlah kader. Soalnya JK yang duduk sebagai ketua umum belum juga menyatakan diri sanggup maju sebagai capres. Dalam beberapa kesempatan, JK mengisyaratkan kalau dirinya masih nyaman bersama SBY, capres dari Partai Demokrat.
Sebagai partai besar dan punya pengalaman lama, kata Zainal, Golkar seharusnya pede mengusung capres dari kadernya sendiri. Bukan malah menjadi orang nomor dua. "Partai baru yang belum jelas jumlah anggotanya saja sudah berani mengusung capres. Kenapa Golkar tidak?" keluh Zainal.
Sebenarnya semangat untuk mengusung capres dari kalangan internal sudah mencuat sejak Rapimnas Golkar ke II tahun 2006. Desakan semakin menguat di Rapimnas III tahun 2007. Sejak itu sejumlah kader menyatakan diri maju untuk jadi capres. Misalnya Yuddy Chrisnandi, Fadel Muhammad dan berikutnya adalah Sultan.
Sultan di depan puluhan ribu warga yang memadati Alun-alun Utara Keraton Yogyakarta, Selasa 28 Oktober 2008, resmi mendeklarasikan diri sebagai capres. Majunya Sultan didukung penuh Sentral Organisasi Karyawan Swadiri Indonesia (Soksi), salah satu organisasi underbow Golkar. Dari luar Golkar, Sultan juga dapat dukungan dari Partai RepublikaN dan sejumlah seniman.
Saat ini Sultan memang bukan capres resmi Golkar. Namun arah dukungan tersebut semakin menguat di internal Golkar. Sejumlah elit di DPP dikabarkan sudah merapat ke Raja Yogya tersebut. Belum lagi dukungan dari DPD di sejumlah provinsi.
"Orang-orang DPP yang mendukung Sultan masih malu-malu. Mereka masih menunggu kondisi yang tepat untuk menyatakan dukungan. Kita lihat saja nanti," beber Anton Lesiangi, salah satu fungsionaris Golkar.
Anton, yang mengaku sebagai anggota dream team Sultan mengaku, dirinya saat ini sudah menerima pernyataan dukungan dari sejumlah elit di DPP Golkar. Hanya saja, nama-nama tersebut tidak mau dibeberkan saat ini. Alasannya, menunggu timing yang tepat.
Penjaringan capres yang saat ini dilakukan DPP Golkar disebut-sebut sebagai salah satu manuver elit DPP yang telah mendukung Sultan. Lewat survei kans Sultan untuk maju semakin kuat. Indikasinya, dari sejumlah polling lembaga survei, nama Sultan selalu bercokol di tiga besar kandidat capres,
setelah SBY dan Mega.
Dukungan dari DPD terhadap Sultan juga tidak bisa diremehkan. Sebab analisa Anton, hampir 50 persen DPD bakal mendukung Sultan sebagai capres dari Golkar.
Bahkan para kader di daerah berharap capres Golkar bisa diumumkan sebelum Pemilu Legislatif. "Kami capek terus didesak pertanyaan kader. Siapa capres yang akan dijual Golkar untuk menarik simpati?" jelas Kordinator bidang OKK dan Pemenangan Pemilu DPD I Partai Golkar Nusa Tenggara Timur (NTT) Alex Enna kepada detikcom.
Dari sejumlah partai ternama yang akan bertarung di Pemilu 2009, memang hanya Golkar yang belum mengusung capres. Kondisi ini berbeda dengan partai-partai lainnya, seperti Partai Demokrat yang menjual SBY, PDIP dengan Megawati, Gerindra melalui Prabowo, dan Hanura menjual Wiranto. "Golkar ini aneh. Sebagai partai besar kenapa tidak menjual kadernya sendiri?" ujar Anton.
Kondisi ini membuat sejumlah kader di sejumlah DPD merasa kesal dengan DPP. Mereka pun mengancam, jika perolehan suara Golkar anjlok di Pemilu Legislatif, agenda Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub) akan segera digelar. Di situ nasib JK akan ditentukan.
Lain lagi pendapat Zainal Bintang. Menurutnya, apapun hasil Pemilu Legislatif, nasib JK tetap terancam. Soalnya, jika suara Golkar turun JK tidak akan mendapat restu untuk jadi cawapres SBY. Sebab sang juragan itu dianggap tidak sukses mempertahankan suara Golkar.
Begitu juga Kalau suara Golkar naik. Golkar tentu saja akan mengusung capres dari kadernya sendiri. Dan itu berdasarkan mekanisme survei. Jadi belum tentu JK yang akan diusung sebagai capresnya. Karena ada Sultan maupun Akbar, yang namanya lebih populer dibanding JK.
Bukan itu saja, jabatannya sebagai ketua umum juga diprediksi bakal terlepas. Karena posisi tersebut saat ini sedang diincar beberapa elit yang punya pengaruh besar di Golkar, misalnya Aburizal Bakrie dan Agung Laksono.
Bisa dibilang, nasib JK saat ini sangat tidak menguntungkan jika tidak segera mengambil langkah yang berani dan strategis. "Pokoknya saat ini nasib JK diujung tanduk. Maju kena mudur juga kena," pungkas Zainal. (ddg/iy)











































