Namun sebenarnya bola ada di tangan SBY jika SBY masih ingin berduet dengan JK. Karena bagaimana pun, JK dengan Golkarnya memiliki basis massa yang riil yang mampu mendulang banyak suara.
"Saya kira bolanya di tangan SBY dan Demokrat. Golkar dan JK tinggal tunggu bola karena JK kelihatannya sudah cukup puas dengan posisi wapres," ujar pengamat politik dari Indo Barometer Mohammad Qodari kepada detikcom, Kamis (12/2/2009).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Qodari, ada dua indikasi kuat yang bisa membuktikan bahwa SBY sepertinya tidak akan menggandeng JK lagi. "Yakni dalam Rapimnas Demokrat yang lalu tidak disebut nama calon wapres, apalagi mendefinitifkan JK sebagai wapres. Yang kedua, keluarnya pernyataan Ahmad Mubarok soal suara Golkar yang hanya 2,5 persen bisa menjadi bumerang. Karena ini bisa jadi pernyataan serius," kata Qodari.
Munculnya angka 2,5 persen itu, menurut pria berkacamata ini, bisa menjadi hubungan SBY-JK kian renggang meskipun di luar nampak baik-baik saja. "Selama ini JK hanya dilihat sebagai wapresnya SBY. Padahal dia punya posisi lain sebagai Ketum Golkar," ujarnya.
"Saya kira tanda-tanda (keretakan) itu menguat. Beberapa kejadian akhir-akhir ini mengindikasikan ketegangan yang memang sebelumnya sudah ada dan bisa berakibat jauh," pungkasnya. (anw/nrl)











































