"Seorang pemimpin itu harus STMJ. S, sadar, karena jabatan pemimpin adalah amanat dari Tuhan dan mandat dari rakyat," kata Wiranto.
"T, tahu, pemimpin harus tahu masalah dan tahu apa yang diharapkan oleh rakyatnya. Kalau pemimpin tidak tahu masalah dan apa yang diharapkan, lebih baik tidak dipilih," terang Wiranto.
"M, mau dan mampu, yang mau jadi presiden banyak, pertanyaannya adalah mampu atau tidak? Kalau tidak mampu lebih baik tidak mencalonkan diri," papar Wiranto.
"J, jamin, karena setiap jabatan apa pun harus dipertanggungjawabkan pada rakyat," jelas eks Pangab ini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut mantan capres 2004 ini, kesiapannya maju kembali sebagai capres dalam Pemilu 2009 semata-mata ingin berbakti pada Indonesia dengan menggunakan hati nurani.
"Saya lebih mengutamakan moral, itulah kenapa saya menamakan Hati Nurani Rakyat atau Hanura. Hati bisa mengatur otak untuk berbuat baik dan benar," papar Wiranto.
Bagi Menko Polkam zaman Soeharto ini, seorang pemimpin yang besar dari media dengan membelanjakan dana untuk iklan kampanye, jika tidak memiliki hati nurani tidak akan membawa kemaslahatan bagi rakyat.
"Seorang calon pemimpin yang menghabiskan dana ratusan miliar, kalau tidak punya hati, setelah memimpin dia akan menggunakan pemikiran dagang untuk break event point," sindir Wiranto.
(yid/nrl)











































