Hal tersebut diungkapkan tokoh PBN, Heniy Astiyanto,Β di sela-sela acara deklarasi organisasi tersebut di Pendopo Taman Siswa, di Jl Taman Siswa Yogyakarta, Selasa (10/2/2009).
"Lebih bagus bila Sultan konsentrasi di Yogya. RUUK DIY masih membutuhkan perjuangan beliau. Kita takut nanti dua-duanya justru tidak didapat, baik sebagai presiden atau pun gubernur. Kita juga berharap para aktor politik tidak mengeksploitasi Sultan," ujar Heniy.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Bukan penggembosan. Justru beliau ini kami posisikan lebih baik. Ini merupakan gerakan murni ke arah kebudayaan bukan politik," tegas Heniy.
Acara deklarasi tersebut PBN tersebut dihadiri Ketua Majelis Luhur Taman Siswa yang juga mantan KSAD, Tyasno Sudarto. Dalam pidatonya di hadapan ratusan massa PBN, Tyasno menegaskan PBN adalah wahana perjuangan untuk menghentikan perusakan budaya nusantara.
Menurut Tyasno, sangat ironis saat ini banyak pelaku dan penjaga budaya nusantara mabuk dan terjebak dalam politik praktis. " Padahal itu hanya kepentingan sesaat dan pragmatis," kata Tyasno.
Saat menyampaikan pidato, Tyasno mengenakan kemeja putih. Di lengan kanannya terikat pita merah bertuliskan Pamong Budaya Nusantara.
Dalam kegiatan tersebut tampak 4 tiang Pendopo Taman Siswa dibalut kain warna merah. Di kanan kiri panggung terpasang bendera merah putih. Pada latar belakang panggung tertera tulisan deklarasi Pamong Budaya Nusantara yang didominasi warna merah dan putih. Sedangkan di depan podium terpasang tulisan 'Save Culture'. (bgs/djo)











































