"Komitmen (deklarasi Bandung) sejak awal bukan untuk capres dan cawapres. Buat saya itu terlalu kecil. Tentang capres dan cawapres itu nanti yang milih rakyat kok," kata Erros kepada wartawan di Solo, Sabtu (7/2/2009).
Menurutnya deklarasi pada 11 Januari 2009 adalah semacam gerakan moral para politisi untuk menanamkan kesadaran pentingnya perubahan di pikiran dan hati rakyat. Banyak orang yang meneriakkan butuh perubahan, tapi tidak tahu cara melakukannya seperti apa.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ide menegaskan komitmen melakukan perubahan itulah yang kemudian dia tawarkan kepada Rizal Ramli selaku seorang bakal capres. Di dalam konteks berkomitmen melakukan perubahan itu maka deklarasi Bandung digelar.
"Bagaimana mungkin seseorang yang harus dirubah bisa melakukan perubahan. Bagaimana mungkin mereka yang masuk wilayah masalah bisa memberikan solusi. Karena itu perlu ada gerakan bersama dengan komitmen perubahan mendasar di bidang politik, ekonomi, budaya dan semuanya," ujarnya.
Ketika ditanya tujuan deklarasi di Bandung saat itu, Erros mengatakan sebagai politisi dirinya punya tanggungjawab menanamkan kesadaran pentingnya perubahan di pikiran dan hati rakyat. Karena saat ini, menurutnya, semua rakyat butuh perubahan itu namun mereka tidak tahu cara melakukannya seperti apa.
Ketika ditanya tentang nasib julukan duet Dwitunggal yang sempat muncul dalam deklarasi di Bandung, Erros kembali menegaskan dirinya bukan pasangan Rizal Ramli. Ia tidak berkeberatan bila Rizal Ramli akhirnya menggandeng tokoh lain sebagai bakal cawapres.
"Tentang capres dan cawapres itu nanti yang milih rakyat kok. Bisa saja Saudara Rizal Ramli kesana kemari menyalonkan diri sebagai capres, tapi kalau tidak ada yang milih, dia yang mau apa," lanjutnya.
(mbr/lh)











































