Khususnya iklan tokoh politik yang sengaja mendirikan partai politik hanya karena ingin menjadi maju bertanding dalam Pilpres 2009. Tindakan demikian merupakan penghinaan terhadap demokrasi.
Demikian wanti Ketua Umum Partai Nasional Banteng Kerakyatan Indonesia (PNBKI), Erros Djarot, di sela kunjungannya ke kantor pusat Badan Pembinaan Olahraga Cacat (BPOC), Solo, Sabtu (7/2/2009).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Erros juga mengingatkan untuk tidak begitu saja percaya dengan pengumuman hasil-hasil survey. Tidak sedikit survey tentang pemilu dan pilpres yang dilakukan secara ala kadarnya dengan metode penelitian dan bobot ilmiah sangat minim.
Sebagai contoh dia menyebut hasil survey terakhir terhadap Partai Demokrat yang dilaporkan melonjak drastis daari 7 persen pada 2004 menjadi 21 persen. Padahal menurutnya selama lima tahun terakhir tidak ada capaian bidang sosial, ekonomi dan politik yang signifikan dari pemerintah Presiden SBY yang didukung PD.
"Dari mana lonjakan itu dan apa sebabnya? Jangan-jangan itu sebuah permainan politik agar nanti jika dilakukan mark-up orang tak terlalu marah. Hati-hati menyikapi hal seperti itu," sambungnya.
Erros Djarot dikenal sebagai bakal cawapres yang berpasangan dengan Rizal Ramli sebagai bakal capres-nya. Nama pasangan yang menamakan diri Dwitunggal ini jarang muncul dalam hasil survey tentang peluang para bakal kontestan Pilpres 2009. Kebetulan untuk memuluskan langkahnya menuju kursi RI1, Rizal Ramli tidak mendirikan partai politik baru atay pun memasang iklan.
(mbr/lh)











































