"Saya kira kader Golkar sekarang sudah rasional. Saya tidak melihat Sultan itu rival yang kuat," kata Yuddy pada wartawan di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Jumat (6/2/2009).
Politisi muda yang mencalonkan diri sebagai capres independen ini mencontohkan kekuatan Jusuf Kalla dibanding Sultan. Menurutnya di Golkar, JK jauh lebih berpengaruh dibandingkan Sultan.
"JK itu ketua umum partai. Kalau mau memanggil ketua DPD seluruh indonesia, 24 jam para ketua itu akan datang. Coba Sultan yang mengundang, belum tentu," papar Yuddy.
Karena itulah, lanjut Yuddy, tidak ada alasan lain bagi JK untuk tidak berani maju sebagai capres dari Golkar.
"Jika memang saat ini Partai Golkar berani mendeklarasikan Pak Jusuf Kalla sebagai satu-satunya calon presiden, maka sebagai kader saya dengan sendirinya akan memberikan dukungan terhadap Pak Jusuf Kalla," kata Yuddy.
Menurut anggota komisi I DPR ini, sebagai partai terbesar di parlemen, seharusnya Partai Golkar sudah harus berani mengumumkan calon presiden yang akan diusung pada pemilu mendatang. Karena dengan keberanian Partai Golkar dan kesiapan Jusuf Kalla dimajukan sebagai calon presiden, maka dengan sendirinya memicu semangat para kader Partai Golkar untuk mengerakkan mesin partai untuk memenuhi target perolehan suara yang sudah diputuskan dalam rakernas.
"Kalau Golkar sudah mendeklarasikan JK sebagi capres, para kader Partai Golkar, pasti akan sekuat tenaga bekerja untuk memenuhi target minimal 20 persen suara," terang Yuddy.
Menurut Yuddy, yang terjadi saat ini adalah elit-elit Partai Golkar melakukan gerakan yang mengunci Jusuf Kalla seolah-olah hanya layak diposisikan sebagai calon wakil presiden mendampingi Presiden SBY.
Sikap para pengurus DPP yang berfikir seperti inilah, membuat JK sebagai ketua
umum partai terbesar menjadi tidak dihitung oleh kekuatan lawan politiknya.
(yid/rdf)











































