"Prabowo hanya mau bilang pada lawan-lawannya bahwa dia juga mampu untuk menggaet tokoh-tokoh sekaliber Sultan dan lain-lain," ujar pengamat politik dari Universitas Indonesia (UI) Boni Hargen saat dihubungi detikcom, Senin (2/2/2009).
Menurut Boni, strategi pencitraan publik semacam itu sah-sah saja. Hanya saja, strategi itu tidak realistis mengingat Gerindra merupakan partai baru dengan basis massa yang mengandalkan perpindahan suara dari Partai Golkar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Apakah (strategi) itu efektif atau tidak tetap butuh pembuktian," ucapnya.
Selain itu, lanjut Boni, belum tentu juga para tokoh yang dinominasikan sebagai cawapres Prabowo akan bersedia. Mereka pastilah memiliki kalkulasi dan kendaraan politik sendiri.
Meski demikian, imbuh Boni, langkah politik Prabowo itu patut diapresiasi sebagai bagian dari upaya memunculkan capres alternatif. "Selain blok M (Megawati) dan blok S (SBY), perlu dibahas blok alternatif, mungkin bisa blok P (Prabowo)," tandasnya. (sho/ndr)











































