"Pernyataan mereka sesuatu yg biasa saja, bukan statemen yang saling memojokkan, asal jangan menyerang pribadi," papar pengamat politik LIPI Syamsuddin Hari dalam acara Polemik bertajuk "Main Yoyo Depan Cermin" di Warung Daun, Jl Pakubuwono, Jakarta Selatan, Sabtu(31/1/2009).
Dikatakan Syamsuddin, istilah "yoyo" dan "poco-poco" yang pernah dilontarkan
Megawati bukan sesuatu yang ditujukan secara langsung ke SBY, namun lebih
ditujukan kepada pemerintahan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dimana-mana berlaku demikian, oposisi versus incumbent," terangnya.
Dosen ilmu politik UI menilai saling serang antara kubu SBY dan Megawati adalah hal yang wajar saja. Dalam konteks incumbent, klaim pemerintahan berjalan sukses secara sepihak adalah hal yang wajar.
Begitu pula oposisi, selalu melihat kelemahan dan kesalahan incumbent. "Nanti rakyat yang menilai apakah klaim itu betul atau bohong," terangnya.
Baginya, perang statemen menjelang pemilu adalah hal yang wajar. Namun,
Syamsuddin mewanti-wanti agar saling serang berupa perang statemen ini tidak
memojokkan secar personal.
Soal istilah "yoyo" dan "poco-poco" ia melihatnya sebagai kebutuhan elit politik agar masyarakat tidak sepi.
"Ini metafor. Dalam kehidupan politik ini sesuatu yang elitis, yang dipahamai oleh elit bukan masyarakat kebanyakan," pungkasnya. (Rez/ndr)











































