Padahal tidak sedikit tokoh yang diusulkan pengurus PDIP daerah, baik yang dipikirkan serius maupun yang terkesan asal mencalonkan. Para calon itu adalah Sultan Hamengku Buwono X, Prabowo Subiyanto, Surya Paloh, Hidayat Nur Wahid, Akbar Tandjung, Wiranto, Sutiyoso dan Fadel Muhammad.
Serius karena memang ada di antara para calon itu yang sedang mencari-cari 'lowongan' atau kesempatan duduk di pucuk pmerintahan. Asal mencalonkan karena sebagian dari para calon itu sebelumnya sudah menyatakan diri sebagai bakal capres dan tidak mau menjilat ludah sendiri atau merendahkan diri menerima tawaran sebagai cawapres.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tokoh beruntung terpilih sebagai cawapres pasangan Megawati pastilah dia punya kemampuan marketing sangat hebat. Sebab tugas awal Sang Cawapres sebenarnya 'menjajakan' PDIP hingga menang mutlak dalam Pemilu 2009 agar mudah mengajukan pasangan bakal capres-cawapres.
Masalahnya sekarang ini menjual PDIP bukan urusan semudah Pemilu 1999 lalu. Terungkapnya kinerja bobrok dan tingkah polah memalukan sejumlah fungsionarisnya di legislatif belakangan ini membuat terpuruk citra PDIP. Ada yang hobi bolos sidang, terlibat korupsi bahkan pezina.
Sosok Megawati pun tidak lagi mencitrakan pembela wong cilik, tokoh reformis, atau simbol kaum terzalimi yang patut dibela. Rangkaian ejekannya kepada kinerja Pemerintahan SBY-JK memang sangat populer di masyarakat, tapi juga jadi bumerang.
Menggantungkan diri pada pamor Soekarno seperti selama ini? Memang masih lumayan mujarab mendongkrak citra Mega dan PDIP, tapi itu jurus basi.
Siapa pun cawapres yang terpilih, kita tunggu saja sepak terjangnya 'melariskan' PDIP hingga mulus jalan bagi Megawati. Kalau dia gagal, pasti Mega mundur dari bursa bakal capres. Malahan bisa jadi Mega mundur lebih awal karena gagal mendapat 'marketer' handal. (lh/nrl)











































