Di mata pengamat politik Boni Hargens, langkah Sultan justru tamparan besar bagi partai berlambang pohon beringin itu.
"Sultan hadir di Solo, ini tamparan besar buat Golkar," katanya dalam Dialog Kenegaraan "Persaingan Ketat Menuju Istana" yang dihelat DPD di Gedung DPR, Jakarta, Rabu (28/1/2009).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pria berkepala plontos ini menyayangkan perlakuan berbeda Partai Golkar terhadap Sultan dan Jusuf Kalla. Ketika Kalla meninggalkan konvensi capres Partai Golkar, dan memilih menjadi cawapres SBY di Pilpres 2004, Partai Golkar tidak ribut-ribut dan terkesan mendiamkan saja.
Namun, ketika Sultan mau jadi cawapres Megawati, sambung Boni, kenapa partai Golkar seperti kebakaran jenggot dan bahkan sampai ada suara untuk mengeluarkan Sultan dari partai.
Apakah partai Golkar menilai Sultan pengkhianat? "Sultan tidak pengkhianat. Hanya dia merasa tidak dibutuhkan di Golkar. Justru JK yang menghianati," kritik dosen Ilmu Politik UI ini
Jika Sultan benar keluar dari struktur partai, menurutnya hal itu justru akan menggerogoti internal partai Golkar. Ia menyarankan Sultan tetap dirawat.
Soal pernyataan Muladi yang mengatakan Sultan harus dikeluarkan dari partai, Boni menilainya sebagai ucapan bunuh diri. "Rugi kalau Sultan out dari Golkar," paparnya.
Seperti fenomena Pilpres tahun 2004 silam, 31 persen suara Partai Golkar justru memilih capres dari Partai Demokrat, dan bukan mendukung capres yang diusung Partai Golkar yakni Wiranto. "Itu karena ada JK," pungkasnya. (Rez/ndr)











































