"Konteks zaman demokratis ini pilihan politik tidak dipengaruhi yang berbau agama. Itu
pilihan independen seseorang," ujar rohaniawan Romo Benny Susetyo pada detikcom, Rabu (28/1/2009).
Menurut Benny, harus ada pembedaan antara golput yang aktif dan pasif.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Romo Benny menyarankan lembaga-lembaga agama untuk menyarankan warganya untuk menggunakan hak pilih tanpa paksaan.
"Ini pernah terjadi di gereja di Amerika yang menyarankan jamaahnya untuk menggunakan hak pilihnya. Itu tidak masalah, tetapi jangan memaksa karena itu kebebasan individu," kata pria gemuk ini.
Oleh karenanya, keikutsertaan dalam pemilu nanti didasarkan pada pilihan demokrasi seseorang dan hati nurani.
"Hal yang mendasar, demokrasi itu pilihan seseorang. Untuk memilih pemimpin harus sukarela, tidak boleh ada intervensi oleh siapa pun,"tuturnya.
Gereja sendiri akan melakukan voter education bagi para jamaah untuk menentukan wakilnya di pemerintahan, bukan dengan ikut-ikutan mengeluarkan fatwa.
"Gereja lebih pada pendidikan politik, yang dilakukan gereja adalah untuk mendidik umat. Jamaah harus memiliki pengetahuan tentang calonnya yang akan dipilih," tegasnya.
(fiq/nrl)











































