"Kenal saja kita tidak, apalagi memahami visi-misinya. Jauh panggang dari pada api. Harusnya mereka mensosialisasikan kalau tidak mau berdebat," kata Sekretaris Pusat PPI Australia Ahmad Khoirul Umam dalam rilis yang dikirim kepada detikcom, Selasa (27/1/2009).
Menurut Umam, suara luar negeri akan menjadi arena pendulangan suara bagi para caleg yang bertarung di Dapil II DKI Jakarta. Karena itu, agar suara luar negeri bisa dimaksimalkan, para Caleg harus segera menyampaikan program, visi, dan misi, lengkap beserta penjabarannya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara itu, Ketua Umum Pusat PPI Australia Mohamad Fahmi menegaskan, pemilih di dalam negeri dan di luar negeri tidak boleh dibedakan. Karena itu sebagai sesama warga negara yang memiliki hak pilih, PPIA menuntut mendapatkan informasi yang seimbang mengenai para caleg yang ada.
"Dengan memahami visi-misi tersebut, para pelajar dan warga Indonesia di Australia bisa aktif mengomentari, mengkritisi p[ara caleg yang ada." kata Fahmi.
Mahasiswa program doktoral La Trobe University, Melbourne itu juga menegaskan pentingnya menghargai suara luar negeri. Karena ditangan para pelajar dan mahasiswa yang menjadi duta bangsa untuk belajar inilah nasib Indonesia masa depan akan dipertaruhkan.
"Setiap suara punya makna yang sama, baik di dalam maupun di luar negeri. Karena itu, jangan sampai ada informasi yang tersumbat. Warga Indonesia di luar negeri juga berhak mengetahui model dan karakter para calon wakilnya untuk menentukan mana yang terbaik untuk bangsanya," ungkap Fahmi.
Fahmi menambahkan dengan semakin canggihnya teknologi informasi dan murahnya biaya koneksi internet, tidak ada lagi hambatan dan kesulitan memaparan visi dan misi caleg. Karena itu PPIA siap membantu proses sosialisasi para celeg dengan memanfaatkan jaringan internet sebagai bentuk kontribusi PPI Australia dalam mensukseskan pemilu yang berkualitas.
(yid/iy)











































