"Kejadian ini terulang seperti zamannya Pak Akbar (Akbar Tandjung, Ketum Golkar 2004-red). JK saat itu tiba-tiba merapat ke SBY. Oleh karena itu Golkar harus introspeksi, agar aspirasi di tubuh Golkar bisa terkamodir," ujar pengamat politik LIPI Lili Romli saat berbincang dengan detikcom, Selasa (27/1/2009).
Belum lagi, lanjut Lili, aturan main Partai Golkar soal manuver seperti yang dilakukan Sultan sekarang dan JK tahun 2004 belum jelas. Bahkan, Golkar masih menerapkan standar ganda.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lili menyarankan, hedaknya Partai Golkar satu suara dalam menentukan sebuah manuver dianggap melanggar disiplin partai atau tidak.
"Golkar harus satu suara soal ini. Kalau ketua umumnya sudah mengizinkan, saya kira itulah yang dipegang," ujar Lili tentang Sri Sultan yang sudah pernah menghadap JK soal pencapresannya.
Seperti diberitakan, Ketua DPP Partai Golkar Bidang Hukum dan HAM, Muladi, menilai langkah yang diambil Sultan mendekati Pemilu dan Pilpres 2009 telah melangar disiplin partai.
"Parpol harus didukung suatu disiplin dan moral. Jadi kalau sudah menyeberang dari disiplin partai, partai jangan memegang dia lagi. Lepaskan saja," kata Muladi. (lrn/nrl)











































