Partai-partai selalu saja bermunculan berangkat dari keyakinan itu. Para tokoh yang muncul juga tampil percaya diri untuk tampil sebagai capres. Rupanya semboyan seni beladiri lebih merasuk di benak mereka daripada seni kemungkinan di dunia politik.
Tiga dari lima nama yang dielus-elus PDIP untuk dijadikan cawapres, saat ini telah juga mendeklarasikan diri sebagai capres. Sutiyoso, Prabowo, dan Sri Sultan Hamengku Buwono X adalah sosok yang merasa punya dukungan sehingga lebih percaya diri menjadi capres.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Wiranto juga segera merespons negatif sinyalemen PDIP untuk meliriknya. Maklum dia sudah mendirikan Partai Hanura yang diharapkan akan mengantarkannya ke kursi presiden. Dia merasa perlu membuat partai sendiri setelah sebelumnya maju sebagai capres dari Partai Golkar namun hasilnya jeblok karena mesin politik beringin kuning itu tak bergerak sempurna mendorongnya.
Sutiyoso juga merasa pantas menjadi presiden setelah purna tugas sebagai gubernur. Demikian juga dengan dengan Sultan Hamengku Buwono X. "Dalam deklarasi saya akan maju sebagai capres," ujar Sultan kepada wartawan sesuai pertemuan dengan Megawati beberapa hari lalu. Padahal pertemuan kedua tokoh itu diperkirakan banyak orang sedang membicarakan tentang proses menuju pasangan Mega-Sultan.
Namun demikian PDIP belum patah arang. Ketua DPP PDIP, Puan Maharani, yakin akan ada perubahan konstelasi politik pasca Pemilu Legislatif mendatang. Dasar perhitungan Puan adalah dari hasil Pemilu Legislatif 9 April mendatang, para tokoh akan kembali memperhitungkan langkah untuk mencalonkan diri.
"Syarat partai yang dapat mencalonkan seorang presiden harus mendapat 25 persen suara pemilih dan 20 persen kursi di parlemen. Jika perolehan itu tidak tercapai maka sulit seseorang maju sebagai capres. Sedangkan dengan kerja keras yang kami upayakan dari saat ini, kami yakin PDIP akan memenuhi persyaratan tersebut. Kami yakin dinamika dan konstelasi politik akan berubah secara siginifikan pasca 9 April nanti," ujar Puan.
Pada saat itulah, kata Puan, PDIP akan mampu lebih leluasa mendekati tokoh yang akan dipinang. Tentunya, nama yang didekati itu adalah salah satu dari dua atau tiga nama yang dihasilkan dalam Rakernas IV PDIP di Solo 27-28 Januari.
Puan tidak memberikan ketegasan jawaban apakah pengunduran pengumuman nama cawapres PDIP juga dalam rangka mencari nama yang paling banyak mendapat dukungan sesuai hasil Pemilu Legislatif. Namun dia memastikan PDIP tidak akan lagi mengubah nama yang yang akan diumumkan.
"Yang akan diumumkan pada Rakornas bulan Mei mendatang adalah salah satu dari dua atau tiga nama yang direkomendasikan Rakernas di Solo. Kami tidak mungkin lagi mengubahnya dengan mencari nama baru. Kami harus menghargai hasil yang telah diputuskan 1.044 utusan dari DPD dan DPC seluruh Indonesia dalam Rakernas nanti," jelasnya.
Seorang peserta Rakernas IV PDIP di Solo menyambut baik pengunduran pengumuman nama cawapres. Menurutnya dengan pengunduran itu maka kader-kader di bawah akan lebih leluasa melakukan improvisasi politik di lapangan menghadapi Pemilu Legislatif.
"Hajatan politik terdekat harus lebih dulu diamankan," ujar kader muda PDIP yang tidak bersedia diungkap namanya.
Seorang tokoh senior PDIP yang juga hadir di Solo melihat pengunduran penyebutan nama itu juga harus dipahami dalam rangka membuat pemetaan mutakhir pasca Pemilu Legislatif. Disamping itu PDIP juga punya kepentingan mengacau lawan.
Agak sulit apakah pengunduran penyebutan nama itu akan menguntungkan PDIP dan benar-banar akan mengacaukan lawan atau malah justru menjatuhkan kepercayaan pemilih karena PDIP benar-benar telah kesulitan mencari kepercayaan dari tokoh di luar partai. (djo/ndr)











































