Holopis Kuntul Baris, Seiya Sekata Mendongkrak Mega

Holopis Kuntul Baris, Seiya Sekata Mendongkrak Mega

- detikNews
Selasa, 27 Jan 2009 05:14 WIB
Holopis Kuntul Baris, Seiya Sekata Mendongkrak Mega
Solo - PDIP cukup sering mengulang-ulang pernyataan tentang waktu untuk mengumumkan cawapres untuk mendampingi Megawati. Rakernas IV di Solo sejak awal disebut-sebut sebagai ajang pengumuman, namun akhirnya diralat lagi. Pelaksanaannya pun beberapa kali ditunda. Cukup banyak nama tokoh yang disebut-sebut dan didekati, banyak juga yang telah menyatakan keengganannya.

Dalam beberapa kesempatan Tjahjo Kumolo, Ketua Badan Pemenangan Pemilu DPP PDIP, mengatakan harus dengan cermat memutuskan satu nama yang akan disandingkan dengan Megawati. Harapannya nama yang diputuskan adalah figur yang memiliki dukungan riil untuk menambah perolehan suara dalam pilpres.

Asumsinya adalah suara PDIP solid, pejah gesang atau hidup mati di belakang Mega. Sepertinya asumsi itu tidak jauh meleset, belajar dari pengalaman yang telah diterima partai moncong putih ini dalam sejumlah perhelatan politik. Persoalannya adalah bagaimana 'menjual' Mega kepada pemilih di luar partai.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Karenanya pemilihan nama cawapres menjadi sangat urgen. PDIP harus bekerja keras jika ingin mendudukkan kembali ibundanya sebagai orang nomor satu di tanah air. Di arena Rakernas IV Solo, masih ada lima nama yang cukup kuat untuk dipilih. Mereka adalah Hidayat Nurwahid, Akbar Tandjung, Sutiyoso, Prabowo, dan Sri Sultan Hamengku Buwono X. Lima nama ini dikerucutkan dari 10 nama yang semula dijaring.

Hidayat Nurwahid, Ketua MPR yang juga mantan Presiden PKS, memang pantas dilirik. Jika pilihan itu tak bertepuk sebelah tangan, akan menjadi duet yang harus mendapat perhatian khusus. Mega dan Hidayat berasal dari partai yang memiliki kader loyal. Hingga kini belum ada sinyal positif, bahkan sinyalemen yang diberikan Hidayat dan pendukung di PKS justru cenderung memberikan resistensi.

Akbar Tandjung juga tidak dianggap enteng. Politisi licin ini memiliki pengalaman politik yang sangat matang. Namun satu hal yang perlu diperhitungkan adalah di saat ini Akbar berada pada posisi timpang tanpa modalitas politik yang cukup kuat. Akbar Tandjung telah tidak lagi mengendalikan parpol pemenang Pemilu 2004, Partai Golkar.

Sutiyoso juga dihitung sebagai kandidat. Mantan Gubernur DKI Jakarta ini memang punya kedekatan dengan Mega. Pencalonannya sebagai gubernur DKI di periode kedua didukung penuh PDIP. Namun pastinya menentukan memilih Sutiyoso saat ini tak ubahnya sebuah permainan yang penuh resiko. Belum ada ukuran jelas sejauh mana capres dari Partai Indonesia Sejahtera ini benar-benar mendapat dukungan rakyat.

Prabowo dilirik didekati. Gebrakannya bersama Gerindra dinilai akan mampu menambah suara. Bahkan Sekjen DPP PDIP Pramono Anung Wibowo mengatakan setidaknya telah tiga kali PDIP melakukan pendekatan dengan Prabowo. Namun Prabowo menyebut pertemuan-pertemuan itu hanya pertemuan biasa, belum pernah ada pembicaraan memadai yang mengarah pada menyandingkan dirinya dengan Mega. Bahkan Prabowo masih lebih percaya diri menjadi capres.

Pilihan yang paling sering disebut sebagai duet ideal adalah menyandingkan Mega dengan Sultan. Raja Kasultanan Yogyakarta ini dinilai sosok yang paling pas mampu mendongkrak popularitas Mega. Dia memiliki pendukung setia di kantong-kantong konsentrasi pemilih baik di Jawa maupun luar Jawa.

Namun demikian menyandingkan Mega dengan Sang Sultan juga bukan tanpa hambatan. Sultan sendiri secara terbuka telah menyatakan bahwa dia tetap akan mencalonkan diri sebagai presiden seperti yang telah dia deklarasikan sebelumnya. Para pendukung tradisionalnya juga merasa lebih cocok Sultan pada posisi RI-1 daripada RI-2.

Dalam situasi yang masih serba sulit inilah PDIP menggelar Rakernas IV yang semula disebut akan dijadikan ajang pengumuman nama cawapres. Akhirnya PDIP pun harus mengambil kompromi untuk menunda pengumuman pada bulan Mei mendatang. Sedangkan Rakernas di Solo hanya menggodok dan mengerucutkan nama-nama.

PDIP memang masih harus bekerja keras untuk mendongkrak popularitas Mega. Apalagi jika nantinya pasangan SBY-Kalla yang pernah mempecundanginya tahun 2004, kembali bersatu menghadangnya. Holopis kuntul baris, seiya sekata senasib sepenanggungan menyelesaikan tugas-tugas berat, menjadi semboyan yang digemakan di Rakernas Solo. Sepertinya pemilihan semboyan itu pas dengan kondisi yang berkembang.

Bahkan dari lima nama yang akan dibahas itupun, PDIP pun masih sangsi apakah salah satunya nanti akan benar-benar mampu mendongkrak suara Mega. Buktinya sebelum Rakernas dimulai, Puan Maharani selaku Ketua Panitia Rakernas menyatakan, "Lima nama inilah yang akan dibahas di Rakernas Solo. Namun tidak tertutup kemungkinan muncul nama baru lagi sesuai aspirasi peserta kongres,".

Nah lho... (djo/ndr)


Berita Terkait