"Itu memukul dan mencoreng wibawa PKS secara besar. Hal memalukan itu lebih baik tidak dilakukan lagi," kata pengamat politik Universitas Airlangga Daniel Sparingga saat dihubungi detikcom, Sabtu (24/1/2009).
Menurut Deniel, PKS sebaiknya mengambil langkah-langkah cepat dan tepat agar slogan bersih, peduli dan profesional yang dikumandangkannya lebih punya makna.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Daniel menilai langkah cepat yang diambil PKS dengan memecat Anwar Junaedi adalah langkah yang tepat untuk menjaga kewibawaan partai. "Walaupun tercoreng skandal itu, tindakan memecat pengacara itu secara cepat akan memulihkan wibawa mereka," imbuhnya.
Daniel menjelaskan, skandal suap terkait perkara hukum adalah hal yang umum di negeri ini. "Ketika politik dan hukum bergesekan hasilnya kerap berupa uang. Ini hal yang agak umum di negeri ini, dan PKS tidak terbebaskan dari ini," kata Daniel.
Kasus ini bermula saat Anwar mengaku membayar uang sebesar Rp 10 juta untuk diberikan kepada seseorang yang mengaku sebagai Kahumas polda Metro Jaya. Konon, uang tersebut untuk melicinkan agar Polda Metro mengeluarkan SP3 terhadap kasus yang dialami Tifatul terkait kasus demo Palestina.
Anwar, yang tak lain adalah kakak kandung caleg dari PKS Adang Daradjatun telah membayar uang Rp 10 juta. Namun ketika dia datang ke Polda Metro untuk mengambil SP3, malah bantahan dari Polda yang didapat.
(lrn/aan)











































