Siapa ketiga nama yang dimaksud? Masih simpang siur. Namun, Jumat (23/1/2009), sumber detikcom di internal PDIP menyebutkan, 3 nama yang sedang menjadi incaran Megawati adalah Raja Kraton Yogyakarta yang juga gubernur DI Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Bwono X, mantan Presiden PKS yang juga menjadi Ketua MPR Hidayat Nurwahid dan Ketua Dewan Penasihat Partai GerakanΒ Indonesia Raya (Gerindra) Prabowo Subianto.
Masing-masing dari ketiga nama itu memiliki kelebihan dan kekurangan. Namun, menurut sumber itu, dari ketiga nama itu, kemungkinan Sultan memiliki kans yang paling besar. Apalagi selama ini, beberapa survei juga memperlihatkan bahwa duet SBY-Sultan cukup potensial menjadi pesaing berat SBY. Alasannya, Megawati yang sudah memiliki pendukung fanatik akan bertambah kekuatannya dengan tambahan suara dari pendukung Sultan yang merupakan masyarakat Jawa yang tersebar di seluruh wilayah nusantara.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sultan juga memiliki latar belakang sebagai politisi Golkar yang sangat memungkinkan mendapatkan dukungan dari konstituen Golkar yang tidak suka dengan kepemimpinan Jusuf Kalla. Kasus ini bisa jadi akan mengulang seperti pemilu 2004 lalu, di mana calon yang secara resmi didukung Golkar justru kalah karena suara Golkar beralih pada figur yang disukainya.
Itulah beberapa keuntungan yang akan dicapai jika Megawati memilih Sultan Hamengku Buwono X sebagai cawapresnya. Namun demikian, bukan berati pasangan ini berjalan mulus menduduki kursi RI 1 yang saat ini dinikmati SBY. Pasangan Mega-Sultan juga akan menghadapi kendala-kendala politis yang tidak mudah jika duet ini benar-benar terjadi. Harapan masyarakat yang menginginkan pemimpin yang tegas, berani dan bersih tidak ditemukan dalam pasangan ini.
Baik Megawati maupun Sultan bukanlah orang baru yang terbebas dari sejarah politik masa lalu. Megawati pernah diberi kesempatan memimpin negeri ini dan hasilnya semua rakyat masih ingat kebijakan-kebijakan Mega, baik yang menguntungkan atau yang merugikan bangsa. Yang jelas, hingga saat ini, berdasarkan survei-survei, Megawati memiliki elektabilitas yang masih cukup tinggi, meski masih berada di bawah Megawati.
Demikian juga dengan Sri Sultan Hamengku Buwono X. Semua orang tahu tidak terlepas dari sejarah Orde Baru karena Golkarnya. Sultan juga telah menikmati kekuasaan dengan menjadi gubernur DI Yogyakarta 2 periode. Hasilnya, masih banyak masyarakat yang mempertanyakan efektivitas kepemimpinan Sultan selama memegang kendali sebagai gubernur.
Tapi apa pun itu, pilihan politik sudah tentu telah diperhitungkan matang-matang. Tidak mungkin Mega begitu saja memilih Sultan sebagai pendampingnya tanpa perhitungan-perhitungan yang matang. Siapa yang benar-benar akan dipilih Mega, kepastiannya baru bisa diketahui setelah Pemilu Legislatif, bulan Mei 2009. (yid/asy)











































