Keroyok SBY, PDIP Masukkan Nama Cawapres Tambahan

Keroyok SBY, PDIP Masukkan Nama Cawapres Tambahan

- detikNews
Kamis, 22 Jan 2009 20:00 WIB
Keroyok SBY, PDIP Masukkan Nama Cawapres Tambahan
Jakarta - Kandidat cawapres Megawati Soekarnoputri ternyata tidak hanya berkutat pada 5 nama yang pernah disebut Sekjen PDIP Pramono Anung. Namun juga memperhitungkan Ketua Dewan Pembina Partai Golkar Surya Paloh, Capres Hanura Wiranto, Panglima TNI Jenderal Djoko Santoso dan mantan Kapolri Jenderal (Purn) Sutanto.

Hal itu dipaparkan Ketua Badan Pemenangan Pemilu PDIP Tjahjo Kumolo dalam jumpa pers di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (22/1/2009).

"Kita akan keroyok SBY lah. Kan enak kalau incumbent dikeroyok rame-rame," kata Tjahjo.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

PDIP, kata Tjahjo, pun mengundang para kandidat cawapres tersebut pada Rakernas PDIP di Solo 27-28 Januari. "Namun Djoko Santoso dan Sutanto berhalangan jadi tidak bisa hadir," katanya.

Tjahjo mengakui, pihaknya serius mempertimbangkan siapa cawapres yang akan menemani Mega untuk berhadapan dengan SBY. "PDIP yakin 2009 adalah head to headnya SBY-Mega," ungkapnya.

Sebelumnya Pramono Anung pernah menyebut Sultan HB X, Prabowo Subianto, Hidayat Nur Wahid, Sutiyoso dan Akbar Tandjung sebagai kandidat terkuat pendamping Mega. Namun, dalam pemaparan yang dilakukan Tjahjo tidak terdapat nama Akbar Tandjung sebagai kandidat cawapres anak proklamator RI tersebut.

Selain memperhitungkan kekuatan internal, PDIP ternyata sudah memperkirakan siapa kira-kira yang akan mendampingi SBY dalam Pilpres 2009. Banteng moncong putih memperhitungkan kekuatan SBY-Kalla, SBY-Hidayat, SBY-Meutia Hatta, dan SBY-Sri Mulyani.

"Kita terus memperhitungkan kekuatan lawan. Kira-kira siapa dari cawapres Mega nantinya yang bisa menandingi ke empat kemungkinan ini," beber Tjahjo.

Menanggapi pertanyaan wartawan mengapa PDIP tidak memasukan Kalla sebagai calon pendamping Mega sedangkan kader Golkar lain seperti Surya Paloh dan Sultan dimasukkan, Tjahjo menjawab "JK masih wapresnya SBY, nanti akan menimbulkan ketegangan."

"Kami menghargai JK sebagai wapres dan Ketua Umum Golkar," tandasnya.

(lrn/anw)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini