"PDIP sebagai partai oposisi meminta pemerintah tidak mencari popularitas
dari BBM. PDIP meminta BBM tidak dimainkan untuk mencari simpatik," kata
Sekretaris Jenderal (Sekjen) DPP PDIP Pramono Anung dalam jumpa pers di Megawati Institute, Jl Proklamasi, Jakarta Pusat, Kamis (22/1/2009).
Saat jumpa pers, Pramono Anung didampingi putri Megawati Soekarnoputri, Puan Maharani dan peneliti Yudhi Latief.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pramono menjelaskan, penggunaan isu penurunan harga BBM oleh sebuah parpol
bukanlah karena usaha parpol yang bersangkutan, tapi memang harga BBM sudah
turun. Namun, harga BBM saat ini masih dianggap mahal karena berada di atas
harga pokok.
Di tahun 2004, ketika minyak dunia sekitar US$ 36,05, harga BBM hanya Rp
1.955. Kini minyak bumi dunia pasarannya US$ 40, tapi harga BBM di Indonesia walaupun turun menjadi Rp 4.500, jadi masih jauh lebih mahal dibanding harga di tahun 2004.
"Idealnya penurunan lebih dari itu. Sebab, harga BBM Indonesia lebih mahal
dibandingkan Malaysia. Jadi, kami meminta pemerintah untuk menurunkan lagi," pintanya.
Pram menambahkan, klaim prestasi penurunan harga BBM itu melukai rasa
keadilan. Tak cuma PDIP, menurut Pram partai lain banyak yang mengeritiknya, termasuk dari kalangan cendikiawan, politisi dan pengamat. (zal/anw)











































