Survei ini akan dilakukan oleh Lembaga Survei Jamaah Masjid Indonesia, organ di bawah Dewan Masjid Indonesia. Ketua Lembaga Survei, Daud B, mengatakan pihaknya akan mengadakan survei terhadap 50 kandidat capres.
Kriteria capres itu antara lain presiden atau yang pernah menjadi presiden, wapres atau yang pernah menjadi wapres, tokoh masyarakat yang mengajukan diri sebagai capres, atau capres yang diusung oleh partai politik (parpol).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Metodenya sederhana. Kita akan mengadakan survei tiap hari Jumat di tiap-tiap masjid agung di masing-masing provinsi," kata Daud di Istana Wapres, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakpus, Selasa (20/1/2009).
Untuk tahap pertama dia akan survei pada Jumat ke-3 Februari 2009, dengan 10 ribu responden di 17 provinsi. Hasilnya disaring menjadi 35 kandidat. 35 Kandidat itu disurvei lagi pada pertengahan Maret dengan 25 ribu responden dari 25 provinsi. Hasilnya 20 kandidat. Setelah itu 20 kandidat akan disurvei lagi pada akhir Maret 2009, oleh 20 ribu responden dari 33 provinsi. Hasilnya didapatkan 10 besar kandidat.
Setelah pemilihan legislatif, hasil survei akan diberikan kepada parpol untuk masukan aspirasi. Dia juga menegaskan lembaga survei ini bukan sebagai konsultan politik dan tidak berafiliasi kepada parpol tertentu. Dananya berasal dari individu yang halal dan tidak mengikat.
"Dari 50 kandidat kita berharap pada mereka untuk berkontribusi. Kalau kandidat masuk 10 besar itu bisa berkontribusi Rp 10 juta, kalau 35 besar Rp 20 juta, dan 20 besar Rp 20 juta," ujar dia.
Sementara Sekjen Dewan Masjid Indonesia Natsir Zubaedi mengatakan tujuan survei ini adalah supaya umat tidak golput.
"Ada beberapa tokoh yang mengimbau untuk melalukan golput. Padahal memilih pemimpin yang ulil amri adalah kewajiban," ujar Natsir.
(nwk/nrl)











































