Dua Capres Tak Hadir di Konvensi DIB Denpasar

Dua Capres Tak Hadir di Konvensi DIB Denpasar

- detikNews
Sabtu, 17 Jan 2009 18:44 WIB
Dua Capres Tak Hadir di Konvensi DIB Denpasar
Jakarta - Capres Rizal Ramli tidak hadir pada Konvensi Dewan Intergritas Bangsa (DIB) ke-3 di Denpasar. Capres lainnya, Sri Sultan Hamengku Buwono X juga absen.  

Tidak hadirnya dua capres tersebut disampaikan oleh Ketua Tim 45 DIB Salahuddin Wahid alias Gus Solah di Hotel Nikki, Jalan Gatot Subroto, Denpasar, Sabtu (17/1/2009).

Gus Solah menilai seharusnya para capres tersebut hadir pada Konvensi DIB agar rakyat mengetahui secara langsung pemikiran para pemimpin nasional, sehingga tidak salah menentukan pilihan. "Sangat berbeda antara bertemu langsung dengan membaca di surat kabar," ujar dia.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut dia, konvensi ini dapat digunakan sebagai wacana alternatif untuk melakukan pendidikan politik. Tidak hadirnya sejumlah capres, menurut Gus Solah, tidak mendelegitimasi DIB. "Datang atau tidak itu hak mereka. Soal deligitimasi biar masyarkat yang menilai," ujarnya.

Meskipun Rizal dan Sri Sultan tidak hadir, konvensi tetap digelar, dengan dihadiri tiga capres, yaitu Yuddy Chrisnandi, Marwah Daud Ibrahim dan Bambang Sulistomo, putra pahlawan nasional Bung Tomo.

Konvensi DIB juga akan digelar di 12 kota lain, antara lain di Bandung (24/1), Medan (31/1), Banjarmasin (7/2), Makassar (14/2), Manado (16/2), Ambon (21/2), Jayapura (28/2), Palembang (3/3) dan berakhir di Jakarta (7/3).

Rizal Ramli tidak hadir dalam konvensi DIB karena menghadiri acara dialog PKS di Padang, Sumatera Barat. Sedangkan Sri Sultan Hamengku Buwono X mendampingi Wakil Presiden Jusuf Kalla yang melakukan kunjungan ke Yogya.

Pada konvensi putaran ke-3 ini, dalam siaran pers yang diterima detikcom, Marwah Daud Ibrahim  menyampaikan pentingnya  sebuah perubahan besar dalam kurun waktu lima tahun ke depan. "Karena kalau kita tetap miskin, saling menyalahkan, tawuran, kriminalitas tetap tinggi, narkoba, pornografi, dan korupsi tetap meraja lela, maka Indonesia bangkrut," kata Marwah.

Oleh karena itulah, Marwah menegaskan pentingnya target 2009-2014 di bawah payung  visi dan misi program Nusantara Jaya 2045 untuk menjadikan  Indonesia berjaya, maju, unggul, adil, makmur dan memimpin peradaban baru bukan hanya di Asia, tapi dunia. Untuk mencapai visi besar itu, target penting yang harus dicapai pada kurun waktu lima tahun ke depan adalah perubahan struktural dan kultural dengan membangun karakter dan integritas bangsa, mewujudkan penghasilan setiap keluarga Rp 5 juta perbulan, dan memperjuangkan setiap anak usia sekolah untuk bersekolah. (gds/asy)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads