Berebut Restu Kiai di Jawa Timur

Berebut Restu Kiai di Jawa Timur

- detikNews
Jumat, 16 Jan 2009 16:01 WIB
Berebut Restu Kiai di Jawa Timur
Kediri - Kiai masih menjadi figur dominan di Jawa Timur. Tidak heran bila sejumlah politisi nasional menjadikan pemimpin pondok pesantren dalam daftar kunjungan utama.
 
Walau belum Pilpres masih beberapa bulan lagi ke depan, namun sejumlah capres sudah melakukan penjajakan. Silaturahmi sudah biasa dijadikan alasan sejumlah capres. Namun, diduga kuat, niatnya adalah mencari restu.

"Prabowo, Sultan, dan terakhir ini Sutiyoso bersilaturahmi. Nanti lusa (24 Januari), Jusuf Kalla juga akan ke Lirboyo," kata KH Muhamad Anwar Iskandar (Gus War), dalam sebuah kesempatan yang juga pimpinan pesantren As'adiyah, Kediri, Jawa Timur.
 
Di kawasan Kediri ini, memang berdiri sejumlah pesantren tua yang memiliki pengaruh kuat di Jawa Timur. Sebut saja Pesantren Lirboyo, yang diasuh oleh KH Idris Marzuki, yang memiliki 9 ribuan santri.
 
Atau pesantren di Ploso, yang diasuk kakak beradik KH Zainudin Djajuli dan KH Nurul Huda Djajuli. Di pesantren ini mondok sekitar 5 ribuan santri.
 
Kiai-kiai asal Kediri ini memiliki cukup pengaruh dan menjadi rujukan para kiai lainnya di Jawa Timur. Utamanya Lirboyo, banyak kiai-kiai, yang dahulu menjadi murid di pesantren ini.
 
"Kita belum menentukan sikap. Kita belum sampai ke sana, (menentukan nama capres). Kita masih taaruf, kenal dulu, siapa seperti apa," tutur Gus War.
 
Kiai memang masih menjadi figur sentral, meski beberapa di antaranya sudah terpetakan, menjadi pengurus sejumlah partai. Seperti dikatakan Gus War, dalam menetukan siapa capres pilihan kiai, masih akan dilakukan musyawarah, yang dilakukan sebelum pemilihan presiden digelar. "Setelah itu baru menetukan sikap," jelasnya.
 
Secara diplomatis, para kiai memilih calon yang memiliki kataqwaan, mengetahui umat dan kondisi masyarakat, dan mengetahui bagaimana penderitaan pondok pesantren.
 
Namun seseorang di kalangan pesantren membisikkan, persyaratan itu bukan hal yang mutlak. "Yang penting nilai 'gizi' yang diberikan capres," tutur dia yang enggan disebutkan namanya.

Lantas bagaimana para kiai memandang capres perempuan? Capres perempuan akan direspons para kiai bila kondisi darurat. "Kondisi itu berlaku, kalau kondisinya darurat, tidak ada laki-laki yang mampu," timpal KH Nurul Huda.
 
Dengan kondisi apa pun, syarat utama bagi capres meraih suara di Jawa Timur yakni menaklukkan hati sang kiai. Dan sejumlah capres pun sudah mulai mencobanya. (ndr/asy)


Berita Terkait