Demikian dikatakan Gus Mus mewakili ulama peserta Silaturahmi Nasional di Ponpes Edi Mancoro, Gedangan, Tuntang, Kabupaten Semarang, Senin (12/1/2009).
Β "Seruan ini (tidak membawa NU dan atributnya dalam politik praktis) sebetulnya pengulangan saja. Kalau ada yang masih membawa-bawa NU itu namanya budeg," tegas Gus Mus.
Menurut kiai yang aktif menulis puisi ini, indikasi adanya penggunaan NU dalam politik praktis cukup terlihat dalam pilkada di berbagai daerah. Hal itu tentu saja sangat merugikan NU.
"Terbukti, keikutsertaan NU dalam politik praktis malah membuat perpecahan di tubuh organisasi. Karena itu, NU harus netral," terangnya.
Pemanfaatan institusi NU dalam politik praktis juga membuat warga nahdliyin dan publik bisa bingung tentang implementasi khittah NU. "Padahal hal itu sesungguhnya sudah sangat jelas," imbuhnya.
Selain seruan tidak membawa NU dan atributnya dalam wilayah politik, Silatnas yang dihadiri puluhan kiai dan pengurus NU itu juga merekomendasikan PBNU agar memasyarakatkan 9 butir hasil Muktamar di Yogya 1989, meminta warga nahdliyin yang aktif maupun tidak aktif berpolitik membangun persaudaraan, melarang warga nahdliyin berlebihan dalam berpolitik, dan berharap aktivitas politik tidak mengabaikan tanggung jawab sosial. (try/djo)











































