"Sekarang ini kata 'perubahan' memang banyak digunakan. Tidak hanya di politik, tapi juga jadi slogan produk-produk tertentu. Kami tentu senang kalau kata itu dipakai banyak orang," kata Rhenald saat berbincang dengan detikcom, Selasa (6/1/2009).
Rhenald menganggap, 'Rumah Perubahan' yang digunakan Rizal Ramli hanya bersifat sementara saja. Jadi, pria berkacamata itu tidak akan mempersoalkannya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pria yang menjadi host salah satu program di televisi swasta ini mengatakan, brand 'Rumah Perubahan' yang digagasnya memang belum dipatenkan. Namun, kata dia, kata-kata itu telah menjadi nama yayasan.
"Dulu waktu kita mau pakai, kita cek apakah ada yayasan dengan nama itu. Ternyata tidak ada, jadi kita yang pertama," ujarnya.
Jadi apakah Rhenald berniat mematenkan brand tersebut? "Kita sudah memproses itu. Mungkin dalam waktu dekat," lanjut ahli bisnis itu.
Rumah Perubahan didirikan saat Rhenald Kasali merasa prihatin dengan persoalan sampah khususnya di DKI Jakarta dan sekitarnya. Di 'Rumah' itu, Rhenald mengumpulkan sampah warga di Jatimurni, Pondok Gede, Bekasi, tepatnya di belakang Gardu Induk PLN Pondok Rangon.
Sampah-sampah itu diolah menjadi biomass, kompos dan plastik-plastik. Untuk kompos komposisinya hanya sekitar 10-20%. Sementara plastiknya diolah lagi dan bisa dijual dalam keadaan yang sudah bersih.
Untuk hasil Biomass ternyata bisa menghasilkan energi hingga 7.000 kalori. Tak heran, Biomass produk Rumah Perubahan ini langsung diminati oleh PT Indocement. Produk Biomass Rumah Perubahan kini secara rutin telah disuplai ke Indocement.
(ken/iy)











































