"Harus ada badan untuk mengawasi itu dan ini memang di Bawaslu. Bawaslu harus bisa memberikan sanksi-sanksi pada saat survei itu tidak akurat," ujar Wiranto.
Hal itu disampaikan Wiranto di sela-sela rakernas Partai Hanura, di Menara Gracia, Jl HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan, Selasa (6/1/2009).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Masalahnya siapkah Bawaslu ketika survei digunakan sebagai alat politik. Apalagi lembaga survei semakin banyak. Kan perlu aturan main jelas," kata mantan Panglima TNI ini.
Wiranto mengklaim, hasil survei LSI yang menunjukkan suara Hanura jeblok tidak sesuai dengan hasil survei internal partainya. Berdasarkan hasil survei internal, Hanura masuk 5 besar.
"Ternyata hasilnya beda jauh sekali dengan hasil survei yang dilakukan lembaga survei. Makanya saya meragukan," pungkas Wiranto.
LSI merilis hasil survei terbaru yakni suara PD unggul dibanding PDIP dan Golkar. Sedangkan suara Partai Hanura tidak masuk 5 besar dan berada di urutan bawah.
Berikut hasil survei LSI:
1. Partai Demokrat = 23%
2. PDIP = 17,1%
3. Golkar = 13.3%
4. PKB = 4,8%
5. PKS = 4,0%
6. Gerindra = 3,9%
7. PAN = 3,4%
8. PPP = 3,1%
9. Hanura = 1,3%
(nik/iy)











































