Mungkin anggapan bahwa yang muda itu belum matang, yang muda itu tidak pintar, belum dapat mengambil keputusan dengan benar, belum bijaksana dalam menangani suatu permasalahan, apalagi menyelesaikannya. Kadang masyarakat cukup jahat dengan melabeli orang muda sebagai yang belum matang, belum bisa apa-apa, belum banyak pengalaman, dan sebagainya.
Jangan salah sangka. Sejarah membuktikan banyak orang muda yang meraih prestasi dan sukses. Banyak orang yang mengamini masa muda sebagai masa penuh gairah, cita-cita, dan mimpi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mumpung masih muda, keberanian mengambil risiko adalah kunci. No risk, no gain.
Banyak orang muda yang sangat sukses dalam memimpin korporasi. Menurut data Kompas, pimpinan perusahaan-perusahaan besar properti yang kini berkibar adalah anak-anak muda. Mereka, di antaranya, adalah Anindya Novyan Bakrie (Grup Bakrie), Solihin Kalla (Grup Hadji Kalla), Erwin Aksa (Grup Bosowa), Didi Teja (properti), Eiffel Tedja (Grup Pakuwon), dan Ronald Kumalaputera (properti).
Mereka menjalankan bisnis raksasa dengan kapitalisasi ratusan sampai triliun rupiah. Ada juga Sudiro Andi Wiguno, Chief Executive Officer (CEO) Manhattan Capital, telah berhasil mengelola uang triliunan rupiah dan membawahi beberapa perusahaan besar di Tanah Air saat usianya mencapai 28 tahun.
Ada juga Sandiaga Uno dan Rosan Roslani, melalui Recapital Advisors, kedua orang muda ini mengakuisisi perusahaan-perusahaan yang mengalami kesulitan keuangan dengan dana berjumlah triliunan rupiah.
Orang muda lain adalah Patrick Waluyo dengan benderanya Northstar Pacific. Inilah perusahaan yang mengambil alih saham PT Alfa Retailindo, Bank BTPN, PT Adaro dan yang baru saja menjadi isu hangat walaupun belum terwujud, membeli saham Garuda Indonesia.
Ternyata orang muda juga bisa sukses dan berhasil kalau diberi kepercayaan. Coba berikan kesempatan pada yang muda dan sepertinya sukses juga dekat dengan mereka.
Namun, hal demikian ternyata belum terjadi pada ranah politik. Nama-nama terkenal orang muda sebagai aktivis politik, seperti, Budiman Sudjatmiko, Nusron Wahid, Rama Pratama, Pius Lustrilanang, dan Fahri Hamzah, bukanlah pengambil keputusan utama dari partainya.
Nama besar mereka tenggelam dalam genggaman pengurus partai yang notabene orang-orang tua. Bahkan penguasa masa lalu.
Lebih baik peran para orang muda yang bergiat di lembaga sosial dan LSM. Banyak yang menjadi pucuk pemimpin dan menentukan hitam putihnya lembaga bersangkutan. Sebut saja Usman Hamid sebagai Koordinator Kontras, Ifdhal Kasim yang menjadi Ketua Komnas HAM, atau Agung Putri sebagai Direktur Eksekutif Elsam.
Mantan aktivis lain seperti Sri Palupi, Waluyo Jati, Fadjroel Rachman, Mohamad Qodari bergiat dengan organisasi advokasi yang sekarang dipimpinnya. Sementara dari panggung universitas muncul nama Anis Baswedan, Deny Indrayana, dan Saldi Isra.
Tersendatnya peran orang muda dalam ranah politik dapat diterangkan dalam tiga hal.
Pertama, mayoritas pendiri partai politik adalah orang-orang tua. Hal demikian menjadi wajar manakala sebagian besar pengurus partai politik adalah orang tua.
Orientasi politik kalangan orang tua adalah kekuasaan. Berpihak pada rakyat, menyuarakan kepentingan kaum terpinggir, dan menghidupkan demokrasi tampaknya tak lain hanya basa-basi politik tanpa ujung pangkal. Tampilnya orang muda hanya sebagai pelengkap karena orang- orang tua ini jelas tak ingin kekuasaannya diserahkan kepada orang muda.
Kedua, mendirikan partai politik butuh biaya tinggi dan jaringan luas. Jelas yang memiliki jaringan luas dan uang berlimpah biasanya adalah para orang tua.
Ketiga, kaderisasi partai politik yang amburadul. Dapat dipastikan mayoritas partai politik tidak memiliki cetak biru kaderisasi. Kondisi demikian ini yang tidak memberikan peluang bagi orang muda untuk dijadikan kader partai masa depan. Apalagi membekali para kader mudanya dengan senjata bernama kepemimpinan, sistem manajerial, dan motivasi berprestasi.
Bung Karno pernah berkata, "Hai bangsaku, berilah kepadaku sepuluh pemuda, maka akan kugoncangkan dunia."
Andrian Sulistyono
Kalibata Jakarta
asus09@gmail.com
089684003065 (msh/msh)











































