Acara yang dikemas pada 8-9 Agustus 2008 ini berlangsung sangat meriah di sebuah kampus bernama Sunway University College Bandar Sunway Malaysia. Acara diisi mulai dari olah raga bersama kemudian ada diskusi antar budaya membahas masalah:
1. Adjustment to new cultural environment;
2. Communication and cross-cultural adaptation;
3. Pre-departure expectations versus reality;
4. Language learning for survival; or
5. Stress, adjustment and social relations of international studnts.
Pada akhir acara yakni tanggal 9 Agustus malam diadakan pertunjukan kesenian dari berbagai negara asal mahasiswa yang saat ini sedang belajar di Malaysia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Nilai plus yang dipanen pemerintah setempat adalah adanya kesan damai, dan sekaligus ajang untuk memperkenalkan negaranya kepada dunia internasional. Juga menyaring informasi berbagai kondisi negara asal mahasiswa sehingga mempermudah diplomasi dengan pendekatan kebudayaan dan media pendidikan.
Berbagai permasalahan dari sisi mahasiswa mengenai akses pasilitas pendidikan dan juga keluhan tentang imigrasi dan sekedar curhat bagaimana kehidupan mereka selama di Malaysia memberikan input positif bagi pelayanan pendidikan di Malaysia.
Jadi tidak heran sampai saat ini Malaysia merupakan tujuan utama negara-negara Arab untuk belajar ilmu pengetahuan umum. Jika mereka selama ini mendapat hambatan untuk kuliah ke negara-negara barat.
Acara serupa ini pernah saya hadiri tahun lalu, dan yang sangat membanggakan adalah gemuruh tepuk tangan tidak henti-hentinya dari para peserta ketika menyaksikan berbagai tari-tarian dan kesenian asal Indonesia yang memang kreatif, energik, dan sangat penuh corak.
Misalnya saja tari saman dari Aceh. Seluruh hadirin tercengang melihat gerak kompak dibalut tarian energik dan iringan senandung Islami. Sebagai bagian dari bangsa besar sempat kami meneteskan air mata. Ternyata Indonesia tidak hancur-hancur amat. Kita masih banyak hal positif yang bisa kita tunjukkan kepada dunia bahwa kita adalah negara majemuk yang besar dan patut diperhitungkan.
Kita memiliki banyak suku bangsa, bahasa daerah, dan kebudayaan. Ini semua aset bangsa, selain kekuatan intelektual manusianya yang kini tersebar di berbagai penjuru dunia dan siap kembali membangun Indonesia jika kondisi politik di negaranya mulai membaik dan menunjang sarana dan prasarananya.
Mahasiswa, tenaga dosen, dan para pakar yang bekerja di luar negeri, meskipun mereka mengenyam indahnya bayaran gaji dan menikmati fasilitas yang memadai namun saya yakin nurani nasionalismenya bergetar dan batinnya merasa sakit ketika bangsa dan negaranya mendapat konotasi negatif.
Kami sering mengkaunter berita-berita miring tentang Indonesia. Nah, sekarang tolonglah kami wahai para pemimpin negeri dengan anda bersikap baik dan bekerja profesional.
Wahyu Hidayat
No 17 Taman Pengkalan Indah
Jalan Pengkalan Asam Kangar, Perlis, Malaysia
wahyukarawang@gmail.com
60-4-9775302
(msh/msh)











































