Mengkompetitifkan Program Doktor

Mengkompetitifkan Program Doktor

- detikNews
Rabu, 20 Agu 2008 17:02 WIB
Mengkompetitifkan Program Doktor
Jakarta - Kebanggaan dan kegembiraan tampaknya masih meyelimuti dunia pendidikan tinggi (PT) Indonesia. Betapa tidak. Beberapa sumber yang merilis rangking PT dunia memunculkan nama beberapa unversitas di Indonesia dalam jajaran 500 universitas terbaik dunia.

Terlepas dari pertanyaan bahwa apakah ranking tersebut dapat merepresentasikan kondisi nyata dari sebuah PT sebagai institusi pendidikan dan penelitian prestasi tersebut perlu mendapat apresiasi. Namun, harus diakui banyak universitas di luar negeri (LN) yang memiliki kondisi pendidikan dan penelitian yang jauh lebih baik. Mmeskipun mereka mempunyai ranking yang jauh lebih rendah dari universitas di Indonesia.

Banyaknya institusi yang melakukan penilaian dengan misi berbeda tentu saja menggunakan indikator dan bobot penilian yang berbeda pula. Penelitian yang diikuti dengan publikasi dalam bentuk paten dan jurnal internasional merupakan indikator yang digunakan hampir semua institusi penilai. Dalam konteks ini kita harus "legowo" menerima kenyataan bahwa universitas di Indonesia masih jauh ketinggalan dibandingkan dengan universitas di LN.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sebagai gambaran, inilah h-index (Hirsh Index)-sebuah indikator yang digunakan untuk mungkuantifikasi produktivitas saintifik dan pengaruhnya terhadap perkembangan keilmuan-yang dikeluarkan oleh SCImago research group dari tahun 1996-2006 untuk Indonesia adalah 52.

Sebuah nilai yang lebih rendah dibandingkan dengan negara-negara tetanggga seperti Malaysia (56), Thailand (84), dan Singapura (114). Alih-alih dibandingkan dengan Amerika (799), Kerajaan Inggris (465), Jerman (408), Perancis (376), dan Jepang (372) sebagai negara-negara lima besar di dunia.

Tentu saja ada sekian banyak alasan mengapa negara-negara lima besar dunia tersebut bisa sedemikian produktifnya dalam menghasilkan publikasi ilmiah. Dalam pengamatan saya satu faktor yang sangat signifikan berkontribusi adalah program doktor yang mereka miliki. Ya, mahasiswa-mahasiswa doktor mereka merupakan "mesin-mesin" pelaksana penelitian sekaligus pencetak paper.

Bisa dibayangkan seorang profesor di Jerman misalnya rata-rata mereka mempunyai mahasiswa doktor 5-15 orang. Bahkan bisa lebih. Jika dalam satu tahun satu buah paper bisa dihasilkan oleh satu mahasisa doktor sebanyak 5-15 paper bisa dihasilkan oleh seorang profesor di Jerman tiap tahunnya. Ironisnya, banyak dari mahasiswa doktor di negara-negara lima besar di atas bukanΒ  warga negara setempat.

Di institut tempat di mana saya melakukan postdoc sekarang ini 50% dari mahasiswa doktor merupakan orang asing. Dalam sebuah konferensi yang saya ikuti di Chicago tahun 2006 lalu dari sekian banyak mahasiswa doktor di Amerika yang mengikuti konferensi tersebut lebih dari 70% berasal dari India, ~20% dari Cina dan ~10% berasal dari Amerika dan negara lainnya (termasuk dari Indonesia).

Sebuah bukti bahwa ada daya tarik yang membuat orang mengambil program doktor di LN. Bea siswa yang "cukup" merupakan alasan utama selain alasan lain seperti program yang sudah mapan.Β Β  Β 

Baru-baru ini Pemerintah Indonesia melalui Ditjen Dikti Depdiknas meluncurkan program pemberian beasiswa untuk studi program doktor dengan kuota yang cukup signifikan. Sebagai insan di institusi PT saya mengapresiasi langkah pemerintah tersebut. Melihat kondisi yang saya deskripsikan di atas, mengkompetitifkan program doktor dalam negeri (DN) mungkin bisa meningkatkan jumlah penelitian dan karya ilmiah universitas di Indonesia.

Selama ini kita akan berpikir dua kali untuk mengambil program doktor di PT DN. Keterbatasan dana dan bea siswa merupakan kendala utama. Jangankan untuk menutup semua biaya yang ada untuk membayar biaya pendidikan saja sering harus merogoh kantong sendiri. Bahkan harus berhutang. Belum lagi harus memikirkan biaya hidup keluarga.

Oleh karena itu kita akan lebih memilih untuk ke LN karena bea siswa yang diterima akan jauh lebih besar dan mencukupi. Tentu saja kondisi ini tidak selamanya benar. Ada sebagian teman saya yang harus bekerja di luar studi mereka untuk menutupi kekurangan dana yang dibutuhkan. Tetapi, kebanyakan bea siswa dari luar negeri dapat menutupi semua biaya yang dibutuhkan selama studi.

Jika dengan dana yang dialokasikan untuk pemberian bea siswa ini pemerintah mau mekompetitifkan program doktor di DN yaitu dengan pemberian bea siswa yang besarnya sama antara di DN dan di LN maka saya yakin untuk mengambil program doktor di DN akan meningkat. Dengan demikian jumlah mahasiswa doktor di PT DN secara otomatis akan bertambah.

Tentu saja tidak berhenti sampai di sini. Fungsi mahasiswa doktor sebagai mesin-mesin pelaksana penelitian dan pencetak paper seperti universitas di LN juga harus dijalankan. Barangkali kita akan beralasan bahwa kondisi peralatan dan sarana pendukung PT di DN tidak memadahi seperti PT di LN.

Tentu saja pernyataan ini tidaklah salah. Tetapi, sebuah keterbatasan haruslah tidak memfonis kita untuk tidak bisa untuk melakukan suatu penelitian. Justru dengan mengkompetitifkan program doktor di DN perbaikan fasilitas pendukung lebih mungkin untuk dijalankan.

Bukankah banyak peneliti di Indonesia yang telah membuktikan bahwa dengan keterbatasan yang ada mereka tetap bisa berkarya. Bahkan dengan hasil yang luar biasa. Bukankah networking untuk pelaksanaan penelitian mulai berjalan di Indonesia. LIPI sendiri sudah membuka pintu lebar-lebar bagi PT untuk melaksanakan suatu penelitian bersama.

Tentu saja ini semua belum bisa menyelesaikan semua masalah yang ada. Tetapi, ada harapan untuk meningkatkan produktifitas publikasi ilmiah universitas di Indonesia. Sementara transfer of knowledge dari LN ke DN biarlah terjadi melalui program-program bea siswa yang dananya bersumber dari luar negeri.

Setidaknya, jika program pengkompetitifan program doktor DN ini berjalan maka jumlah mahasiswa doktor di Indonesia akan bertambah. Dengan demikian, hasil penelitian dan karya ilmiah akan bertambah.

Kualitas SDM di perguruan tinggi juga akan membaik (dengan bertambahnya jumlah dosen berpendidikan doktor dan mendorong meningkatnya jumlah profesor) dan ranking perguruan tinggi Indonesia juga akan meningkat. Bukan tidak mungkin mahasiswa-mahasiswa dari LN terutama negara tetangga seperti Malaysia akan (kembali) ke IndonesiaΒ  untuk menempuh program doktor.

Heru Susanto (Dr. rer. nat)
Meistersingerstr. 48 E, 45307, Essen, Germany
susanto.heru@gmail.com
+49-201-5632648

Penulis adalah Dosen Teknik Kimia UNDIP sedang Postdoc di UniversitΓ€t Duisburg-Essen, Jerman


(msh/msh)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads