Bertobatlah Para Koruptor

Bertobatlah Para Koruptor

- detikNews
Selasa, 19 Agu 2008 17:45 WIB
Bertobatlah Para Koruptor
Jakarta - Salah satu penyebab negeri ini menjadi carut marut adalah ulah para pejabat yang bermental korup. Entah sejak kapan negeri ini digerogoti dari waktu ke waktu sampai hasilnya seperti sekarang ini.

Adanya Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) merupakan angin segar untuk memperbaiki mental bangsa ini. Tapi, apakah dengan adanya KPK para koruptor menjadi jera dan tidak mau mengulangi lagi tingkah lakunya. Nyaris di semua lini praktek korupsi itu terjadi.

Modusnya sederhana. Mengubah aturan baku yang ada asalkan diberi sogokan dalam jumlah tertentu maka aturan itu bisa dilanggar. Hal itu terjadi pada kasus Azirwan dan Al Amin, kasus BLBI, illegal logging, dan lain-lain. Intinya mereka ingin mendapatkan uang dalam jumlah banyak, dalam waktu singkat, tanpa kerja keras, melanggar hukum pun dilalui.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ini kan mental shortcut (jalan pintas). Mereka pikir dengan melakukan korupsi maka semuanya menjadi beres. Uang dan kekayaan ada di tangan. Tidak peduli cara yang mereka lakukan itu benar atau salah.

Dari segi pendidikan para pelaku korupsi bukanlah orang biasa-biasa saja. Mereka well educated, berpendidikan tinggi, cerdas. Namun, kecerdasannya malah digunakan mengakali orang lain untuk kepentingan sesaat dirinya.

Dari sini kita bisa melihat bahwa bekal pendidikan yang dimilikinya sama sekali tidak bisa mempengaruhi sikapnya. Percuma saja mereka belajar ngaji waktu kecil, belajar shalat, belajar di madrasah, datang ke ustadz.

Toh setelah dewasa, masuk dalam dunia politik dan birokrasi, ilmu-ilmu yang dipelajari sejak kecil tidak ada artinya sama sekali. Lucu sekali memang, yang melakukan korupsi itu adalah orang-orang yang berpendidikan tinggi. Bahkan, tidak sedikit yang mengerti agama atau bahkan pemuka agama.

Memang ada beberapa alasan mengapa seseorang melakukan korupsi. Walaupun hal ini sama sekali bukan pembenaran. Tapi, hanya pencarian dalih belaka. Konon katanya penyebabΒ  seseorang melakukan korupsi adalah, mereka memiliki kesempatan untuk korupsi, secara background ekonomi mereka masuk ke dunia politik tidak berlatar belakang orang mampu.

Artinya, mereka memang mencari makan dari politik. Kemudian ingin cepat kaya dalam waktuΒ  singkat dan memiliki gaya hidup yang mewah.

Di sini ada ketidakseimbangan antara kemampuan dan gaya hidup. Kalau kemampuannya hanya Rp 5 juta dalam waktu satu bulan maka lakukanlah gaya hidup dengan biaya Rp 5 juta tadi. Jangan sampai kemampuan Rp 5 juta tapi gaya hidup sampai Rp 50 juta.

Saya jadi teringat kepada teman saya yang terlilit utang gara-gara menggunakan kartu kredit secara tidak bijak. Gaji dia tidak lebih dari 2 juta satu bulan. Tapi, gaya hidupnya tidak kurang dari 10 juta sebulan. Dia menggunakan kartu kredit. Tidak kurang dari 4 kartu kredit yang dia miliki. Empat kartu kredit tadi berfungsi untuk gali lobang tutup lobang uang yang dia pakai.

Sampai pada satu titik dia lupa bahwa kartu kredit tadi, selain membayar pokoknya, juga bunganya. Sampai dia tidak bisa membayar. Apa yang terjadi? Rumah yang masih kredit dia jual, saudaranya dimintai uang, dia hidup kembali miskin, dia dipecat dari pekerjaannya karena utangnya terlalu banyak dan tidak bisa membayar.

Dia pikir dengan bergaya hidup mewah di luar kemampuannya orang-orang sekitarnya akan kagum padanya. Tapi ternyata dia lupa bahwa jalan yang ditempuh itu salah. Ujung-ujungnya dia harus menerima risiko hukum yangΒ  sama sekali tidak diinginkannya.

Kembali ke kasus koruptor. Berapa banyaknya uang negara yang digerogoti oleh para koruptor. Mereka tidak berpikir bahwa uang negara itu adalah hak rakyat yang harus dipergunakan untuk kepentingan-kepentingan negara dan bukan untuk kepentingan pribadi. Kalau para pejabat dan pemimpin negara Indonesia diisi oleh orang-orang yang korup mau dikemanakan masa depan negeri ini.

Jangankan membangun negeri ini dengan pikiran dan harta yang dimilikinya. Uang negara saja dia embat. Kita malu oleh negara-negara lain yang sudah maju. Yang paling dekat adalah tetangga kita Singapura. Negaranya kecil tapi bisa menguasai dunia. Malaysia pun jauh lebih baik ketimbang Indonesia.

Sementara Indonesia, negaranya luas, para koruptornya mengganas. Para pemimpinnya egois. Hanya mementingkan kepentingan pribadi dan kelompoknya. Kadang saya miris dengan masa depan negeri ini kalau tidak secepatnya dilakukan "pembantaian" kepada orang-orang yang makan daging sendiri.

Memang tidak semuanya pejabat korup. Tapi, koruptor itu nyaris dilakukan oleh mereka dalam berbagai levelnya. Ada koruptor kecil-kecilan. Ada koruptor tingkat medium. Ada juga koruptor tingkat advance (kaya kursus Bahasa Inggris saja).

Untuk membuat mereka jera memang hukumannya harus agak ngeri. Apakah dihukum cambuk, dibunuh, dipenggal lehernya, dihukum gantung, dilempar ke laut, atau dilempar ke kawah yang berisi lava.

Jangan tanggung-tanggunglah supaya mereka kapok. Daripada di sana-sini melakukan terus lebih baik ada shock therapy bentuk-bentuk hukuman kepada koruptor supaya mereka jera. Karena selama ini mereka adem-adem saja para koruptor setelah dipenjara.

Bahkan setelah keluar bisa jadi mereka menjadi guru korupsi. Subhanallah.

Ade Asep Syarifuddin
Jl Irian No 10 Kota Pekalongan
asepradar@gmail.com
0285432234


(msh/msh)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads