Saat ini produksi daging dalam negeri hanya mampu memasok sekitar 72% dari kebutuhan nasional. Sedangkan populasi ideal untuk mencapai target pencapaian pasokan 90% itu adalah 14,04 juta ekor. Atau setara dengan produksi daging sebesar 481 ribu ton. Jadi, peluang pasar yang belum "terjamah" itu adalah melebihi dari 2,808 juta ekor atau setara dengan 96,2 ribu ton produksi daging.
Berdasarkan data kebutuhan itu tiap tahunnya terus meningkat seiring dengan meningkatnya permintaan yang diakibatkan pertumbuhan jumlah penduduk yang terus bertambah. Serta kesadaran masyarakat akan pentingnya asupan gizi dari sumber protein hewani yang semakin membaik.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di tengah kondisi ekonimi bangsa yang lagi sulit sektor peternakan bisa menjadi bagian salah satu alternatif "pintu keluar" dari sekelumit permasalahan negeri ini. Peternakan sebagai subsektor pertanian sangat strategis dan dapat diandalkan untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi, menekan pengangguran, serta sumber tambahan pendapatan bagi para petani.
Adanya kepastian pasar yang masih terbuka lebar serta adanya jaminan hukum dari pemerintah untuk menghalau masuknya lagi daging sapi ilegal --pula yang terpenting adalah telah mendapat dukungan secara politik dari presiden SBY, merupakan rangsangan yang baik bagi para usahawan peternakan sapi potong. Selama ini sebagian besar diusahakan oleh para peternak rakyat dengan skala kecil.
Sekaligus pula menjadi rekomendasi bagi para petani untuk mengintegrasikan usaha pertaniannya dengan usaha peternakan sekaligus guna manambah penghasilan. Pula pengundang bagi siapa pun untuk menjadi peternak dan pelaku usaha peternakan sapi potong yang baru.
Beberapa keluhan dari para peternak rakyat maupun calon peternak rakyat baru, maupun dari para petani yang ingin mensinergikan usaha pertaniannya dengan usaha peternakan sapi potong ketika akan memulai usaha dan mengembangkan usahanya adalah sulitnya mendapatkan sapi bakalan, masalah permodalan, kurangnya wawasan teknis berternak, serta masalah pemasaran.
Sadar akan permasalahan yang dihadapi para peternak rakyat tersebut pemerintah telah membuat strategi untuk jalan keluarnya, yaitu (a) Membuat pusat-pusat pembibitan, (b) menyebar ribuan tenaga fungsional penyuluh peternakan dan kesehatan hewan ke setiap daerah, untuk mengawal teknis beternak yang baik, benar, dan sehat, serta (d) Memberikan dukungan dana yang realistis.
Untuk masalah permodalan ada beberapa fasilitas yang bisa diakses oleh para peternak rakyat/ kecil, yaitu :
a. Bantuan Pemerintah, yaitu bantuan pemerintah dalam upaya pemberdayaan usaha ekonomi produktif berupa bantuan permodalan kepada kelompok peternak yang diberikan dalam bentuk bantuan dana bergulir dengan sistem Bantuan Pinjaman Langsung Masyarakat (BPLM) dengan penyaluran melalui bank, yang disalurkan lewat program kredit ketahanan pangan (KKP) usaha peternakan.
b. Pinjaman Modal dari Perbankan/ lembaga keuangan lainnya. Terdapat berbagai jenis, jumlah, dan layanan lembaga keuangan mikro di pedesaan dalam hal pelayanan kredit dan keuangan. Antara lain Bank Rakyat Indonesia (BRI) Unti Desa Simpanan Pedesaan (SIMPEDES), Bank Perkreditan Rakyat (BPR) non Bank Kredit Desa (BKD), Lembaga Dana Keuangan Pedesaan (LDKP), Badan Kredit Desa (BKD), Unit Ekonomi Desa Simpan Pinjam (UED-SP), Pegadaian, Koperasi Simpan Pinjaman, Credit Union, Kios Saprodi, serta Koperasi Swadaya Masyarakat (KSM)/ Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM).
Bagi petani yang ingin mengintegrasikan usaha pertaniannya dengan usaha peternakan sapi potong. Ada beberapa keuntungan yang didapat. Utamanya adalah limbah dari usaha pertanian tersebut. Baik itu usaha pertanian tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, maupun kehutanan serta perikanan, dapat dimanfaatkan limbahnya yang selama ini dibuang begitu saja, menjadi pakan ternak sapi potong tersebut.
Biaya pakan yang selama ini menjadi penyumbang tertinggi biaya produksi usaha peternakan dapat ditekan keberadaannya sehingga penghasilan petani - peternak itu pun menjadi semakin berlipat. Karena di samping dapat keuntungan penjualan pula didapat tambahan dari alokasi dana biaya pakan yang tidak jadi dipakai. Keuntungan lainnya adalah penggunaan kotoran sapi potong tersebut sebagai sumber pupuk bagi usaha pertaniannya sehingga usaha pertaniannya pun semakin bertambah subur.
Bagi kalangan yang yang sebelumnya belum pernah memiliki pengalaman beternak sapi potong akan tetapi berminat untuk memulai usaha tidak perlu khawatir. Ribuan fungsional penyuluh peternakan dan petugas kesehatan hewan yang disebar oleh pemerintah ke setiap daerah yang ditempatkan di setiap dinas peternakan tiap daerah tersebut dapat menjadi pembimbing yang akan memberikan arahan. Bagaimana teknis beternak sapi potong yang baik, benar, dan terhindar dari penyakit. Sekaligus mengarahkan bagaimana menjalankan usaha peternakan sapi potong yang tepat bersama dengan analisis perhitungan usahanya.
Untuk masalah pemasaran para peternak jangan merasa cemas karena tingginya permintaan kebutuhan daging sapi di Indonesia akan membuat bukan peternak yang mencari pasar. Akan tetapi pasar yang "mencari" peternak sehingga meninggikan posisi tawar peternak sesuai dengan kaidah hukum ekonomi.
Pun apabila tidak adanya para pembeli yang berkeliling ke tiap peternak, peternak hanya perlu menjajakannya di pasar ternak yang ada di daerah tersebut. Atau pun membawanya ke Rumah Potong Hewan (RPH) yang ada di kota tersebut. Di sana sudah terdapat para pembeli yang sudah siap membeli ternak sapi potong tersebut.
Kini, di saat mencari pekerjaan sulitnya minta ampun serta tekanan ekonomi yang semakin berat maka menjalankan usaha peternakan sapi potong adalah sebuah alternatif sumber penghasilan yang menggiurkan. Oleh karena itu mari kita manfaatkan kesempatan ini, untuk kehidupan kita, keluarga, masyarakat, dan negara yang lebih baik.
Cecep Hidayat
Ciawi Bogor
hidayat_c2p@yahoo.com
085624341322
Penulis adalah Peneliti di Balai Penelitian Ternak-Badan Litbang Pertanian - Departemen Pertanian RI.
(msh/msh)











































