Republik Artis

Republik Artis

- detikNews
Selasa, 12 Agu 2008 08:46 WIB
Republik Artis
Jakarta - Kemenangan Rano Karno dalam Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) di Kabupaten Tangerang serta Dede Yusuf dalam Pilkada Jawa Barat mendorong artis-artis lainnya ramai-ramai ikut dalam pilkada. Misalnya, penyanyi dangdut Saipul Jamil berencana maju dalam pilkada Kota Serang.

Mantan suami Dewi Persik itu maju dalam pilkada dengan posisi sebagai calon wakil wali kota (cawali). Tidak hanya Saipul. Artis dan bintang iklan Wanda Hamidah pun demikian. Posisinya sama seperti dengan Saipul namun Wanda di Kota Tangerang.

Artis maju dalam pilkada sebenarnya menempatkan artis dari waktu ke waktu dalam posisi yang semakin baik dalam dunia politik. Pertama kali artis turun dalam dunia politik posisi mereka tidak lebih sekadar penghibur.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kita lihat dalam masa-masa Orde Baru. Banyak artis yang dihimpun oleh partai politik untuk menghibur massa saat-saat kampanye. Proses selanjutnya dalam era reformasi khususnya dan terutama dalam pemilu 2004 mulai banyak artis yang mencalonkan dirinya sebagai anggota legislatif.

Dan terbukti kehadiran mereka dalam ajang pemilu legislatif mampu menarik masyarakat untuk memilih dirinya dan akhirnya menjadikan dirinya menjadi anggota DPR RI. Artis-artis itu semisal Adji Masaid, Qomar, Marisa Haque, Angelina Sondakh, dan Dede Yusuf.

Artis terjun dalam dunia politik sebenarnya bukan barang baru. Di Amerika Serikat ini sudah terjadi. Seperti terpilihnya Ronald Reagan sebagai Presiden Amerika Serikat dan Arnold Schwarzeneger sebagai Gubernur California. Di negara-negara lain pun demikian.

Kehadiran para artis dalam dunia politik di Indonesia sebenarnya tidak banyak pengaruhnya dalam dinamika politik yang ada. Suara-suara mereka di gedung wakil rakyat tenggelam oleh suara-suara wakil rakyat dari yang bukan artis. Meskipun demikian rakyat tidak mempermasalahkan itu. Artis sebagai wakil rakyat vokal atau tidak bukan menjadi masalah.

Di sinilah sebenarnya yang akan menjadi masalah ketika artis nanti menjadi pejabat publik. Mampukah dia menyelesaikan masalah yang dihadapi rakyat padahal dari segi kemampuan mereka belum tentu mumpuni. Namun, bagi rakyat itu mungkin tidak menjadi masalah.

Dukungan rakyat kepada calon kepala daerah yang memiliki latar belakang artis yang akhirnya membuat artis itu menang dalam pilkada bisa jadi disebabkan oleh beberapa faktor. Pertama, akibat sinetron. Banyaknya sinetron dalam televisi yang penuh keglamouran, kemewahan, kekayaan, dan hal-hal lainnya yang sebenarnya sifatnya palsu telah meracuni pikiran masyarakat.

Masyarakat berpikiran bila memilih artis kehidupannya akan seperti sinetron, suasana penuh kemewahan, dielu-elukan banyak orang, glamour, kaya, cantik, ganteng, dan jauh dari problem-problem yang selama ini dialami rakyat. Seperti kemiskinan, pengangguran, krisis pangan, antri minyak, dan kurang gizi.

Terpilihnya Reagan berkat sosoknya yang sering muncul di televisi. Reagan sadar betul bagaimana peranan TV yang sangat besar sebagai media yang luar biasa daya jangkau dan pengaruhnya terhadap tiap individu di seluruh dunia. Pencitraan yang dibentuk oleh televisi sangatlah dahsyat dan Reagan adalah ahlinya.

Saat itu Amerika Serikat berada dalam budaya TV. Batas antara fakta dengan fiksi sangatlah kabur. Di sinilah Reagan memainkan peranan strategisnya. Dengan media TV Reagan mampu membuat seluruh hidupnya menjadi sebuah pertunjukkan atau show yang memikat untuk ditonton setiap orang. Ibarat sebuah alur cerita film yang menarik.

Demikian pula dengan Arnold Schwarzeneger. Dengan peran utamanya dalam film film action terutama Terminator membuat dirinya seolah-olah pahlawan pembasmi kejahatan dan penyelamat ummat manusia. Padahal dalam realita sebenarnya Arnold tak lebih dari seorang binaragawan saja.

Kedua, adanya kecenderungan rakyat memilih pasangan yang muda. Pasangan muda dirasa lebih fresh, penuh semangat, mempunyai penampilan yang gagah, ganteng, atau cakep. Dan, sosok itu biasanya ada pada artis.

Ketiga, rival artis yang maju dalam pilkada baik incumbent maupun mantan pejabat (mantan menteri atau purnawirawan) adalah orang-orang yang gagal dalam kiprah pembangunannya sehingga mereka jera untuk memilih mereka kembali. Sebagai mantan Gubenur Jawa Barat mungkin Danny Setiawan adalah sosok yang gagal dalam membangun provinsi itu.

Buktinya tidak banyak rakyat yang memilih dirinya kembali. Perolehnya pun berada di posisi yang bawah. Kegagalan-kegagalan yang telah dilakukan incumbent, mantan pejabat, dan purnawirawan inilah yang membuat rakyat memilih calon yang relatif tidak mempunyai 'dosa' kepada mereka.

Banyaknya artis maju dalam pilkada itu sah-sah saja. Tidak ada aturan yang melarang artis tidak boleh maju sebagai calon kepala daerah atau wakil kepala daerah. Namun, permasalahnya sejauh mana kemampuan para artis itu bila benar-benar terpilih sebagai pemimpin di tingkat daerah? Nah, itu yang mungkin kita lihat hasilnya 5 tahun ke depan.

Untuk itu partai politik tidak boleh bernafsu untuk memenangkan pilkada dengan membuka pintu seluas-luasnya kepada artis atau membujuk para artis agar mau dicalonkan dalam pilkada tanpa melihat kemampuan mereka. Bila itu terjadi maka semua pemimpin di daerah bahkan nasional bisa dipegang oleh artis sehingga republik ini bisa-bisa menjadi republik artis.

Selain itu bila artis yang tidak memiliki kemampuan namun terpilih menjadi kepala daerah atau wakilnya bisa jadi nantinya ia akan menjadi sapi perahan partai politik yang mengusungnya. Untuk itu sebaiknya para artis juga membekali diri bila hendak maju dalam pilkada.

Ardi Winangun
Jl Kendal Menteng Jakarta Pusat
ardi_winangun@yahoo.com
08159052503

Penulis adalah Pengurus Presidium Nasional Masika ICMI.


(msh/msh)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads